Renungan Pendidikan

RENUNGAN PENDIDIKAN

Oleh: Rusdian Malik

Salah satu penyebab umat Islam menjadi mundur, kalah bersaing adalah terjadinya dikotomi pendidikan, yaitu pemisahan antara ilmu agama & ilmu non-agama seakan saling bertentangan, ilmu umum yg dianggap tidak penting, ilmu agama wajib tapi ilmu pengetahuan non-agama tidak wajib dipelajari.

Namun sekarang, lambat laun, (sebagian) umat Islam khususnya di Indonesia sudah sadar akan kekeliruan tersebut. Bangsa Indonesia sudah bergerak mengakhiri adanya dikotomi pendidikan ini (sebagian lain masih belum berubah, masih berpola pikir jadul bahwa ngaji ilmu non-agama itu tidak berpahala karena tiada berguna buat di akhirat kelak). Sebab, bila semua ilmu diintegrasikan dengan baik maka kualitas manusia Indonesia semakin meningkat. Seiring itu maka kualitas sumber daya manusia kaum muslimin-nya pun bertambah baik.

Oke, anggaplah masalah dikotomi pendidikan agama & non-agama sudah diperbaiki, sekarang muncul lagi masalah yg lebih darurat lagi yaitu pemisahan antara wawasan pengetahuan & wawasan kebangsaan, tidak terpadu antara keduanya (padahal sudah menjamur ada sekolah terpadu).

Dan adalah sebuah fakta, bahwa banyak orang Indonesia yg pinter di segala macam keilmuan baik ilmu agama maupun non-agama, tapi minim wawasan kebangsaan. Banyak sodara muslimin muslimat kita yg jago matematika, jago IPA kimia fisika sastra dan lain sebagainya tapi dalam masalah berbangsa malah bego. Sebagian lainnya lagi yg alim agama kayak nguasai bahasa Arab, fiqh, tauhid dsb pun sama, ketika dalam perihal kebangsaan jadi terlihat emm anu nganunya. Ga berani sih saya sebut mereka bodoh takut kualat, tapi jahilun juhala saja.

Maka demikian, sebagai bentuk kepedulian bagi bangsa ini, saya mewakili santri pesantren mendeklarasikan keprihatian yg mendalam terhadap umat Islam Indonesia yg ngakunya intelek relijius iman & takwa tapi tidak ikut andil dalam penguatan bangsa. Sebut saja seperti yg pinter-pinter sekolah tinggi-tinggi tapi malah jadi anti pemerintah yg sah, anti sistem pemerintahan & demokrasi, tidak suka dengan konsep NKRI & Pancasila, alergi dengan budaya, tidak suka terhadap Islam yg moderat, konslet dengan istilah Islam Nusantara, menjelek-jelekan NU, slalu sinis & waspada kepada non-Muslim, tak rela jika umat Islam bersahabat dengan berbagai penganut agama, pengen khilafah, pengen orang kafir masuk Islam semua, pengen rakyat Indonesia beragama Islam semuanya, pengen Indonesia jadi Indonistan, dst, dll, dsb, dkk.

Sungguh, saya prihatin pada sodara muslim muslimah ada berpola pikir seperti demikian.

Walhasil, secerdas apapun seseorang di berbagai macam bidang ilmu pengetahuan namun jika wawasan kebangsaannya masih kayak di atas-atas itu yaaaaaaa maka sesungguhnya dia itu adalah orang yg bungul. Titik!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...