Nafisah binti Munyah: "Mak Comblang" Rasulullah SAW dan Sayyidah Khodijah

Siapakah Mak Comblang anda?

Oleh: Holilur Rohman
"Founder Konseling Keluarga dan Biro Jodoh Syar'i SaMaRa"

Perasaan cinta adalah perasaan suci nan halus yang sulit diprediksi oleh pemiliknya. Jangankan orang lain, dirinya sendiri terkadang tak sadar kalau dirinya telah "jatuh cinta" kepada orang lain.

Kisah cinta Rasulullah SAW dan Sayyidah Khodijah merupakan kisah cinta abadi yang terukir dengan indah oleh pena sejarah dan tak pernah lekang oleh waktu. Hingga sekarang, kisah cinta 2 makhluk mulia tersebut selalu menghiasi lembar-lembar sejarah Islam, seakan tidak  sempurna membca sejarah Islam tanpa mengetahui kisah cinta suci Rasulullah dan Khodijah. Memang benar, CINTA KARENA ALLAH menjadikannya "abadi" di dunia dan akhirat. 

Dalam catatan sejarah, Khodijah begitu terpesona dg wibawa dan ketampanan Rasulullah. Dia memendam rasa yang tidak seorang pun tahu kecuali dirinya dan Allah. Setiap melihatnya, hatinya selalu meronta ronta dan "memaksa" raganya untuk segera mengungkapkan isi hatinya agar Rasulullah menjadi kekasihnya, menjadi pendampingnya yang selalu setia bersama di manapun dan kapanpun.

Tapi apalah daya, keinginan kuat tersebut seakan terhalang dinding tembok tebal yang sulit dihancurkan. Khodijah telah menikah 2 kali yang salah satunya dengan pemimpin dan orang terhormat arab, Atiq bin Aidz bin Abdullah al Makhzumi, dan juga dengan Abu Halah Hindun bin Zurarah At Tamiki.  Khodijah juga tak terlepas dari pikiran seorang ibu dari mendiang suaminya, ada anak perempuan yang sudah mencapai usia nikah, dan juga Hindun yg masih kecil.

Khodijah sudah "terlanjur" berkomitmen untuk tidak menikah lagi. Komitmen ini tidak sekedar kata belaka, telah banyak para tokoh Quraisy yang kaya dan bernasab mulya  ingin meminangnya, dia tolak mentah-mentah. Dia telah menutup pintu hatinya rapat-rapat untuk siapapun. Apa kata dunia jika selanjutnya dia tiba-tiba menikah dg "pemuda miskin" yang umurnya lebih muda 15 tahun dirinya...??? Sungguh khodijah berada dalam dilema, dia memendam rasa yang sulit untuk diungkap.

Begitu juga dengan Muhammad Rasulullah, beliau mengagumi sosok Khodijah yang berperangai lemah lembut dan penuh kasih sayang. Khadijah adalah perempuan bernasab mulya, berparas cantik, dan bergelimang harta. Pantas saja, di umurnya yang sudah menginjak kepala 4, banyak tokoh quraisy yang mendambakan dirinya untuk dijadikan istri. Sulit menemukan perempuan "sempurna" di kalangan Quraisy ketika itu. Khodijah di mata Rasulullah bukanlah perempuan biasa, dia juga punya sifat "keibuan" yang sayang pada anak anak, sosok yang begitu dirindukan setelah 19 tahun kehilangan ibunda tepat di pangkuanya.

Sama seperti khodijah, Rasulullah juga "memendam rasa" yang sulit diungkap. Rasulullah beranggapan "siapalah dirinya". Dia hanya pemuda miskin yang menjadi "karyawan khodijah dalam urusan perdagangan. Sungguh, perasaan terpendam yang sulit diungkap dg kata-kata.

Lalu bagaimana kedunya akhirnya menikah? Adalah sosok Nafisah binti Munyah, "mak comblang" antara Sayyidah Khodijah dan Rasulullah SAW.  Nafisah adalah teman dekat khodijah. Nafisah tahu persis apa yang dirasakan khodijah ketika dia bersikap tidak sperti biasanya. Khodijah terlihat bingung dan galau. Stelah dipaksa bercerita, akhirnya Khodijah pun cerita perasaan hatinya.

Tak lama stelah khodijah bercerita, Nafisah lalu menyampaikan perasaan khodijah kepada Rasulullah dan menyampaikan bahwa dirinya ingin menikah dg Rasulullah. Awalnya Rasulullah ragu. Beliau merasa bukanlah siapa siapa. Dia tak punya harta benda, berbeda dengan para tokoh Quraisy yg bergemilang harta. 

Mendengar hal tersebut, Nafisah meyakinkan Rasulullah bahwa Insyaallah Khodijah akan menerimanya, apalagi Khodijah sendiri yang berkeinginan untuk menikah dg Rasulullah. Dan singkat cerita, Paman Rasulullah (Abu Talib) mengantar Rasulullah berkunjung ke rumah khodijah untuk menikahkan Rasulullah dg khodijah, dengan mahar 20 ekor unta.

Sungguh mulia Nafisah binti Munyah, "Mak Comblang" Rasulullah dan Khodijah yang punya peran besar dalam sejarah Islam. Khodijah yang merasa telah tua dan Rasulullah yang merasa tak punya harta, hampir saja tak bisa hidup bersama, sampai akhirnya "disatukan" oleh Nafisah binti Munyah yang berhati mulia.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...