Menutupi Aib Orang

MENUTUPI AIB ORANG
@ziatuwel

Malam itu rumah Kiai Muhyiddin Syafii, desa Tuwel, disatroni maling. Tengah malam, si maling mengendap masuk ke rumah Kiai Muhyiddin, menggeledah geledek penyimpanan hasil panen dan mengambil padi. Kemudian dia menyelinap keluar dan kabur.

Ternyata sedari tadi Kiai Muhyiddin melihat aksi maling itu. Namun ia sama sekali tak mencegah apalagi meneriakinya. Ia hanya berdiri memperhatikan dan membiarkan si maling pergi begitu saja. Ketika maling itu sudah enyah beberapa saat, Kiai Muhyiddin memanggil salah seorang putranya yang jago silat, Gus Makmur, untuk mengejar maling itu.

"Kamu susul maling itu, cegat dia di jembatan sana," kata Kiai Muhyiddin sambil menunjukkan suatu lokasi yang cukup jauh dari rumah, entah tahu dari mana.

Setelah sampai di lokasi, Gus Makmur menunggu orang yang dimaksud. Tempat itu sangat sepi dan gelap, jauh dari pemukiman warga dan dekat sungai. Ketika orang itu datang, Gus Makmur langsung menyergap dan menghajarnya. Dengan ilmu silatnya, tak sulit melumpuhkan maling itu. Hingga si maling pun menyerah dan mengembalikan barang curian.

"Bisa saja bapakku menangkapmu tadi. Dia lihat semua perbuatanmu! Awas kalau berani mengulangi!" ancam Gus Makmur.

"Ampun, Gus! Ampun! Tobat, Gus!" rengek orang itu, kemudian tertatih-tatih pergu.

Malam itu juga Gus Makmur kembali ke rumah dan membawa pulang barang-barang yang telah dicuri. Suasana masih sangat hening, seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Namun Gus Makmur tak bisa memendam rasa penasaran atas tindakan ayahnya.

Ia pun bertanya, "Pak, kenapa tidak kita tangkap saja maling itu saat dia keluar rumah. Jadi saya tidak susah-susah mencegatnya di sana?"

"Bapak tidak mau terjadi keributan di sini," jawab Kiai Muhyiddin, "Kalau orang-orang terbangun, nanti pasti ramai dan mereka tahu ada maling. Tapi kalau kita menangkapnya diam-diam seperti tadi, maka yang tahu hanya kita berdua. Walau bagaimanapun, kasihan maling itu kalau aibnya diketahui orang banyak. Yang penting dia sudah dapat pelajaran, syukur kalau mau bertobat."

___
Tuwel, 13 Agustus 2019
Ditulis kembali oleh @ziatuwel dari catatan Mas Solahuddin bin Makmur, dari cerita tutur Wa Makmur bin Muhyiddin. Menyambut haul KH. Muhyiddin Syafi'i.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...