Jamarat dan Kurban: Membebaskan Egoisme

JAMARAT DAN KURBAN:
MEMBEBASKAN EGOISME

Oleh: KH. HUSEIN MUHAMMAD

“Raja’na min al-Jihad al-Ashgar ila al-Jihad al-Akbar”
(Kita pulang dari perjuangan kecil (melawan musuh nyata) menuju perjuangan besar (melawan ego diri sendiri).

Manakala matahari tanggal 9 dzulhijjah tenggelam, dan langit menyisakan warna merah saga, jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia bergerak  meninggalkan medan luas bumi Arafat.  Mereka akan menuju Mina melewati tengah malam di sebuah tempat bernama Muzdalifah. Di tempat ini pada umumnya jema'ah haji mencari batu kerikil, untuk dilemparkan di tempat-tempat yang disebut "jamarat". Bila pagi hari tanggal 10 mereka telah sampai di Mina, langkah-langkah kaki mereka diarahkan menuju ke tempat Jamarat.

Jamarat (Jumrah-jumrah).
Jumrah adalah ritual melempar batu di tiga tempat di Mina, masing-masing tujuh kali. Pada tanggal 10 zhul Hijjah para haji hanya dibolehkan melempar 7 batu di satu tempat saja, yang disebut Jumrah Aqabah/Kubra). Tanggal 11 dan 12 Zhulhijjah, mereka wajib melakukannya lagi di tiga tempat: Ula (pertama), Wusta (tengah/kedua) dan Aqabah (akhir). Jumrah dilakukan di lokasi Mina, atau Muna. Ia berarti tempat tujuan. Para Jema’ah haji biasanya telah mempersiapkan diri laksana orang-orang yang akan berperang melawan musuh. Mereka membawa senjata sederhana; batu-batu kerikil yang mereka peroleh dari jalan-jalan di Muzdalifah atau di tanah Mina. Siapa musuh mereka?. Di tempat itu mereka tak menemukan siapa-siapa sebagai lawan atau musuh. Yang mereka tuju sesungguhnya adalah diri mereka sendiri. Ini sebuah bentuk transformasi besar, dari kesenangan memusuhi dan membenci orang lain menjadi melawan egoisme yang merupakan sumber segala petaka kemanusiaan. Ya, ia adalah nafsu setan dan kebinatangan yang ada dalam diri mereka yang acap kali dimunculkan untuk menjerumuskan dan menerkam sesamanya. Na'udzu billah.

Selanjutnya adalah Qurban. Secara harfiah ia berarti dekat atau mendekatan diri. Dalam Haji ia berarti mendekatkan diri kepada Allah, melalui penyembelihan ternak. Memenuhi seruan Tuhan dengan cara menyembelih hewan pada peristiwa ini adalah salah satu bentuk ketaqwaan kepada-Nya. Al Qur-an menyebutkan :

لَنْ يَنَالَ اللهَ لحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ. كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ  لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ. وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

Daging-daging unta dan darahnya itu sama sekali tidak sampai kepada Allah, tetapi kepatuhanmu kepada-Nya lah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah atas hidayah-Nya kepadamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. ”.(Q.S.Al-Hajj, [22 ]: 36.

Peristiwa ini pada mulanya merupakan tradisi masyarakat pagan. Demi meraih  kebahagiaan diri, para tokoh, atas nama Tuhan, melakukan penyembelihan anak manusia sebagai bentuk pengorbanan untuk Tuhan. Ini adalah bentuk kejahatan kemanusiaan yang harus dihentikan. Tanpa menghilangkan tradisi itu, Allah swt, melalui Nabi Ibrahim dan Ismail, menyerukan praktik pengorbanan tersebut diganti dengan penyembelihan hewan yang memberi manfaat bagi kesejahteraan social. Maka qurban dalam haji adalah simbol perjuangan manusia mewujudkan solidaritas sosial-ekonomi demi kesejahteraan bersama. Allah menyatakan :

وَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا القَانِعَ وَالْمُعْتَر. كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.”(Q.S. al-Hajj, [22]:36).

Seorang penafsir modern (Rasyid Ridha) menyatakan bahwa ibadah qurban melambangkan perjuangan kebenaran yang menuntut tingkat kesabaran, ketabahan dan pengorbanan yang tinggi”. 

Pandangan ini mengajak kita untuk menaruh perhatian yang tinggi kepada dimensi moral dan perjuangan kemanusiaan ini. Dan semua harus terus diperjuangkan bagi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan sosial.

Kepemihakan Islam terhadap komunitas manusia yang miskin atau dimiskinkan oleh struktur sosialnya merupakan komitmen utama Islam.

Menyembelih hewan pada sisi lain adalah simbol menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang menyesatkan dan yang seringkali tidak peka dan tak peduli terhadap penderitaan orang lain.

11.08.19
HM

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...