“Hanya Satu” Tujuan: Anak Kompeten untuk Masa Depan

“Hanya Satu” Tujuan: Anak Kompeten untuk Masa Depan

Oleh: Najelaa Shihab
---------------
Tujuan pendidikan adalah kompetensi, bukan sesuatu yang asing untuk disebut oleh pengamat dan pegiat pendidikan negeri ini. Kurikulum berbasis kompetensi bahkan sudah dicanangkan sejak 2004 lalu, namun perubahan praktik di lapangan sejak kurikulum 1975 (yang memang berdasar konten semata) belum kunjung nyata. Dengan pemahaman tentang betapa sulitnya menggerakkan perubahan pendidikan, dan juga pengalaman melaksanakan praktik baik di Cikal - untuk murid maupun guru- selama 20 tahun ini, berikut beberapa konsep dasar sekaligus miskonsepsi umum tentang kompetensi yang seringkali masih menjadi dasar dari percakapan sehari-hari.

Kompetensi seringkali masih diartikan sebagai keterampilan semata, atau hanya dibutuhkan untuk vokasi, itupun berkaitan dengan pekerjaan yang biasanya sangat sederhana. Padahal, kunci dari kompetensi adalah mampu mendemonstrasikan aksi nyata untuk memecahkan masalah. Sebagaimana kita jalani setiap harinya, kompetensi dalam berbagai situasi - di bidang matematika dan sains misalnya; memasak sampai membuat robot dan roket - membutuhkan lebih dari sekadar trampil melakukannya sesekali. Untuk bisa menyatakan diri mencapai kompetensi, perlu ada sikap dan predisposisi positif untuk beraksi, pengetahuan dasar dan pemahaman mendalam tentang esensi dan eksekusi, kemampuan metakognisi, konsistensi aksi. Kompetensi adalah hasil dari proses belajar (dan berpikir) tingkat tinggi, yang membuktikan transferability- mahir di situasi baru dengan berbagai kombinasi, bukan hanya tugas rutin yang bisa diprediksi. Prestasi didefinisikan bukan sekadar sukses di ujian dan pelajaran sekolahan, tetapi sesungguhnya menjadi kunci untuk terus beradaptasi dan melakukan sinergi lintas bidang ilmu dan profesi yang berkelanjutan. Anak yang bisa menyebutkan piramida makanan atau mengisi jawaban tentang isi piringnya, punya kemampuan yang lebih rendah dibanding anak yang mampu memilih makanan sehat di pasar atau memasak menu seimbang bersama keluarga di rumah atau melakukan aksi sosial dapur umum di daerahnya saat ada bencana. Bisakah Anda bayangkan dampak dari pengalaman dan kesempatan pendidikan yang berbeda ini pada keduanya? Bukan hanya di usia sekolah, tetapi puluhan tahun kemudian saat menjalani pekerjaannya yang juga terus berubah tuntutannya atau saat memutuskan memulai usaha?

Selalu sulit untuk menjelaskan kompetensi karena menuntut kita memandang kurikulum dalam tiga dimensi, masing-masing sisinya berkontribusi. Pendidikan manusia yang holistik, meliputi pengetahuan dan pemahaman, sikap dan keterampilan yang kompleks sekali. Banyak yang mempertentangkan konten dengan kompetensi, punya salah kaprah bahwa kompetensi berarti tidak menguasai materi. Padahal kompetensi membuat pelajar tidak berhenti hanya pada pengetahuan dan keterampilan di tingkat menghafal dan mengenali informasi, tetapi sampai evaluasi dan kreasi. Menjawab soal pemahaman bacaan di lembaran, bukan sekadar soal menemukan kata yang berulang. Dalam proses perencanaan, pengajaran dan penilaian yang berbasis kompetensi - anak sudah terpapar pada berbagai bentuk teks dan genre dengan latar belakang penulis yang beranekaragam sejak dini. Saat terpapar pada bacaan di tes yang tersandarisasi, di media massa dengan berita terkini sampai ke data transaksi di korporasi - anak sudah punya kemampuan memahami struktur bacaan, menarik kesimpulan, sampai membuat ulasan yang membandingkan berbagai gagasan dari hasil refleksi dan memprediksi pola alur dengan computational thinking tingkat tinggi. Bisakah Anda putuskan, mana yang Anda anggap lebih “juara” diantara keduanya? Saya berkali-kali mengatakan, konten dan pendalamannya bukannya tidak penting - tetapi tidak cukup - terlalu rendah dan sederhana untuk menjadi fokus pendidikan kita dan menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari di sekolah, sejak PAUD hingga sekolah menengah, di era disrupsi dan integrasi teknologi.

Sebagian teman, mempertentangkan kompetensi dengan karakter. Tanpa mengklarifikasi definisi kompetensi dengan nilai karakter atau kebajikan, yang tentunya menjadi salah satu tujuan terpenting dalam pendidikan. Saya percaya penuh, menjalani pendidikan dengan kurikulum yang utuh, dalam bentuk cita-cita yang holistik, dijalankan dengan cara konsisten, dan  cakupan yang komprehensif - menumbuhkan karakter anak yang relevan untuk masa depan. Bagaimana tidak? Saat pendidikan bertujuan untuk mentransformasi bukan hanya potensi individu, tetapi juga menjadi model ideal ekosistem yang demokratis dan produktif, anak mendapatkan lingkungan yang sangat mendukung kesiapannya menjadi dewasa. Apakah kita sepakat bahwa apapun cita-cita kita untuk anak, kompetensi sejati selalu butuh prasyarat karakter yang mumpuni? Pilih impian Anda tentang anak sendiri. Membiasakan anak jadi pemimpin “kuat” yang hanya memikirkan kompetisi, atau mengajak anak berpartisipasi dan mampu berempati serta berkolaborasi untuk menghadapi berbagai tantangan. Anak yang kedua, akan berdaya dari mulai isu pribadi seperti perencanaan keuangan sampai isu global seperti perlindungan hutan.

Anak yang berdaya, dimulai dari proses belajarnya dan nantinya memberdayakan lingkungan dan konteks sosial budaya yang makin besar seiring usianya, adalah representasi nyata dari karakter bangsa, kepentingan publik (kita semua), agar menjadi warganegara yang bisa mendunia.

Sekali lagi, kompetensi jawabannya, pendidikan jembatannya.

Bahkan saat kita sudah bersepakat tentang pentingnya pencapaian kompetensi, sulit sekali untuk mempraktikkannya setiap hari. Banyak “distraksi” yang mengganggu konsentrasi dan pada akhirnya menurunkan ekspektasi kita pada diri sendiri maupun pemangku kepentingan pendidikan lain yang mestinya turut terlibat dalam misi ini. Puluhan tahun di pendidikan, saya menemukan begitu banyak pemakluman, penundaan ataupun berbagai alasan. Kualifikasi dan sertifikasi yang sifatnya sekadar administrasi, birokrasi yang perlu direformasi tapi terobsesi pada standardisasi, anak yang prestasinya diukur hanya di situasi ujian nasional yang kebanyakan hafalan dan minim esensi, menjadi contoh betapa kita memilih terus melakukan simplifikasi saat memilih proxy dari kompetensi. Menumbuhkan kompetensi butuh waktu panjang, keterkaitan antarjenjang,   kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan (pusat dan daerah, sekolah dan rumah), perdebatan tentang apa yang relevan dan tentunya keberanian melakukan perubahan. Mari melawan miskonsepsi tentang kompetensi, memilih berpihak pada anak dalam kebijakan, pengajaran dan pengasuhan, dalam segala upaya dan peran kita untuk pendidikan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...