Beradaptasi Itu Bagian dari Sunnah Nabi

Beradaptasi Itu Bagian dari Sunnah Nabi: Catatan Hari Ke-2 di Mesir (1):

Misi utama Nabi Muhammad saw adalah untuk menyempurnakan budaya umatnya. Beliau berusaha menebarkan rahmat (kasih sayang) yang menjadi satu-satunya misi risalah. Allah SWT berfirman:

وَماَ اَرْسَلْنكَ إلا رَحْمَةُ للْعالمين

“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiyâ’: 107).

Sejarah telah membuktikan, bahwa Islam hanya bisa dikembangkan dengan nilai-nilai santun dan penuh etika. Ia akan mengakar kuat di tengah-tengah komunitas masyarakat bila mampu bersinergi dengan budaya setempat tanpa menimbulkan gejolak. Hal mana juga dibuktikan oleh kearifan dan kecerdikan Wali Sanga, sebagai pewaris para Nabi, yang dalam dakwahnya bisa memposisikan budaya (‘âdah) sebagai jembatan atau sarana dakwah, sehingga mampu membumikan ajaran-ajarannya di hamparan bumi Nusantara sampai kini. Jauh-jauh hari Nabi saw telah bersabda:

إنما بُعثْتُ لأُتَممَ مَكاَرمَ الأَخْلاَق

“Niscaya aku hanyalah diutus guna menyempurnakan moralitas yang mulia” (HR. Baihaqi).

Dalam hadis tersebut Nabi Muhammad saw menegaskan bahwa beliau diperintahkan untuk menyempurnakan akhlâqul karîmah yang juga berarti budaya, tradisi dan adat masyarakat, bukan sebaliknya, justru melenyapkannya. Hal ini sebagaimana disabdakan beliau:

إتق اللهَ حَيْثُما كُنْتَ وَأَتْبع السيئة الْحَسَنَةَ تَمْحُها وَخَالق الناسَ بخُلُق حَسَن

"Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, ikutilah kejelekan dengan kebajikan yang bisa meleburnya dan berprilakulah kepada orang lain dengan perilaku yang baik”. (HR. Turmudzi dan Hakim)

Adapun maksud dari perilaku yang baik tersebut adalah “penyesuaian dengan budaya masyarakat.” Hal ini sebagaimana ditegaskan Sayyidina Ali bin Abi Thalib saat ditanya tentang maksud prilaku baik dalam hadis tersebut, beliau berkata:

هُوَ مُوَافَقَةُ الناس فى كُل شَيْء مَا عَدَا الْمَعَا صيْ

“(Maksud perilaku baik tersebut adalah) beradaptasi dengan masyarakat dalam setiap hal selama bukan maksiat”.  [Muhammad Nawawi, Mirqâh Shu’ûd at-Tashdîq, hal. 61]

Dari statemen Sayyida Ali inilah kemudian belakangan populer menjadi peribahasa:

لَوْ لاَ الْوئَامُ لَهَلَكَ الْأَنَامُ

“Andaikan tidak ada adaptasi (dalam pergaulan) niscaya manusia akan sirna”.

Karenanya, sebagai warga dan kader NU, secara jamaah dan jam’iyyah, di mana pun berada sangat fleksible (lentur) dan mampu beradaptasi dengan peradaban, paham, budaya yang sangat berbeda di berbagai penjuru dunia. Fikrah (pikiran) dan manhaj (cara berpikir) NU masih bisa beradaptasi, bersinergi, bahkan bertahan di negara dunia mana pun.

Ajaran Islam Ahlussunnah wal-Jama’ah ala NU, tidak hanya bisa adaptif dengan beragam corak pemikiran, peradaban dan budaya, tetapi juga mampu mewarnainya dengan sangat elegan. Kelahirannya NU, berikut peran-peran strategisnya, ditakdirkan tidak hanya untuk kepentingan di Indonesia saja, tetapi untuk dunia. NU fleksibel sebagai jam'iyyah maupun sebagai gerakan keagamaan dan kemasyarakatan.

Sebagai bagian dari kader NU dan wujud komitmenku pada NU, sikap fleksibilatas dan adaptabilitas tersebut juga berusaha aku implementasikan kini saat aku sudah dua hari berada di Mesir. Mulai adaptasi soal musim yang berbeda dengan musim yang ada di Indonesia sampai soal jadwal waktu solat dan kebiasaan-kebiasaan lainnya.

Ada beberapa hal yang perlu dicatat, Pertama, soal musim. Terdapat 3 (tiga) musim yang berlaku di Mesir, musim dingin, musim semi serta musim panas. Curah hujan hanya 4 kali dalam setahun, jadi di kelembaban udara dan hampir tidak ada alias kering. Musim panas bisa mencapai puncaknya di bulan Juni – September, suhu udara ketika musim panas dapat mencapai 45 derajat celcius. Serta di gurun mampu mencapai di atas 50 derajat celcius.

Ketika musim panas, suhu udara tidak pernah dibawah 30 derajat, dan apabila malam angin yang berhembus pun panas. Dan karena itu, AC akan senantiasa menyala sepanjang hari. Musim dingin di Mesir umumnya akan mulai terjadi di bulan Oktober serta berakhir di bulan Februari. Suhu udara di musim dingin berkisar antara 7 – 18 derajat celcius.

Sementara Musim semi yakni bulan Maret – Mei, merupakan waktu yang paling pas guna berlibur ke Mesir. Sebab, pada musim ini, suhu udara hampir serupa dengan di Indonesia, sejuk kendati cenderung kering serta tidak lembab. Suhu udara berkisar antara 20-30 derajat celcius. Untuk itu, bagi anda yang hendak travelling ke Mesir lebih baik di musim dingin atau musim semi. Sebab, ketika musim panas, matahari cenderung tidak bersahabat dengan kulit.

Kedua, soal aktifitas keseharian. Di Mesir, pola hidup keseharian masyarakatnya sangat berbeda dari pola masyarakat di Indonesia.  Hal ini bisa terlihat misalnya, soal waktu shalat. Jika saat musim panas seperti saat ini, jadwal waktu shalat di Mesir adalah:  Maghrib jam 07.00 pm, Isya' jam 08.30 pm, Subuh jam 03.10 am, Dzuhur jam 12.00, dan Ashar jam 15.30 pm. Di samping itu, di Mesir, aktivitas keseharian biasanya dimulai dan di bukak setelah pukul 09.00 ke atas, baik itu mulai pendidikan, perkantoran, perdagangan dll. Hal ini karena faktor waktu siang yang lebih panjang (16 jam) dari pada waktu malamnya (yang hanya 8 jam). Karenanya, biasanya sehabis Subuh, rata-rata mayarakat Mesir baru mulai istirahat/tidur.

[Bersambung......]

Mesir, 02/07/2029

A. Syafi'i SJ

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...