Zonasi dan Reorientasi Pendidikan

Saya bukanlah seorang pendidik atau seorang pengajar. Di samping pemahamanya berbeda, saya juga merasa belum melakukan satu atau dua tahap agar bisa dikatakan sebagai seorang pendidik atau pengajar. Karena sampai saat ini proses yang saya jalani adalah masih pada tahap belajar. Pendidikan adalah pembiasaan. Membiasakan diri mempraktikan pengetahuan dengan kenyataan. Membiasakan diri melatih untuk mengamalkan pengetahuan di dalam kehidupan nyata. Kehidupan yang penuh dengan misteri. Pepatah lama mengatakan kurang lebih seperti ini “Hari ini adalah anugerah, sedang nanti atau besok adalah misteri.” Ketidakpastian yang dihadapi. Sehingga peran pendidikan dalam hal ini adalah melatih untuk membiasakan diri menghadapi ketidakpastian.

Akhir-akhir ini khalayak umum khususnya masyarakat pendidikan, disibukan dengan aturan zonasi pendidikan. Berbagai kritik tercuat atas peraturan kemendikbud tersebut. Pro kontra pasti ada. Tidak sedikit yang mengeluh dengan peraturan tersebut. Pupus sudah mimpi siswa-siswi yang ingin melanjutkan jenjang pendidikannya di lembaga favorit di luar daerah mereka. Pun orang tua mereka. Walaupun faktanya tidak sedikit orang tua siswa yang setuju dengan adanya peraturan tersebut. Di samping perihal biaya trasportasi juga pengawasan terhadap anak-anak mereka relatif terjangkau.

Mainset yang sudah berkembang di masyarakat adalah prestasi lembaga pendidikan menunjang kesuksesan anak-anaknya. Bagaimana jika lembaga pendidikan tersebut hanya menaikkan gengsi di mata khalayak umum? Padahal prestasi peserta didik tergantung pada bagaimana kegigihan peserta didik itu sendiri. Ditunjang dengan doa dan dukungan orang tua.

Pertanyaan sederhananya adalah apa yang menjadi indikator bahwa lembaga itu benar-benar sukses mendidik peserta didik? Bukan rahasia lagi bahwa lembaga pendidikan ibarat pabrik. Di mana tidak sedikit peserta didik yang memiliki orientasi bekerja setelah mendapatkan ijazah, ketimbang mengembangkan diri dan mengamalkan pengetahuannya untuk menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. Tetapi bukan itu yang menjadi fokus tulisan ini. Apa yang salah dengan zonasi lembaga pendidikan? Di samping setiap warga negara berhak mendapatkan hak pendidikan, di satu sisi juga berhak untuk menentukan menimba ilmu di mana saja yang mereka kehendaki. Tidak sedikit lembaga yang tiba-tiba gulung tikar di suatu wilayah, hanya karena tidak ada peserta didik yang meliriknya. Semisal alasannya adalah sistem pendidikan, mengapa unsur pendidikan yang dalam hal ini adalah masyarakat tidak melibatkan diri?

Jika zonasi pendidikan dirasa membatasi hak setiap warga negara untuk menerima pengetahuan, lantas apa yang menjadi jaminan atas kesuksesan pendidikan jika peraturan zonasi dicabut? Permasalahannya kembali lagi kepada setiap personal peserta didik. Siapa yang besungguh-sungguh dalam belajar di manapun, maka akan menuai hasil yang maksimal. Karena proses tidak akan pernah menyelingkuhi hasil. Dengan kata lain orientasi pendidikan harus dipusatkan pada proses pengembangan diri peserta didik. Baik dalam bidang kognitif, afektif dan psikomotorik. Di mana ketiga bidang tersebut menjadi pemicu kesiapan peserta didik menghadapi kehidupan setelah lulus di setiap jenjang pendidikannya.

Orientasi yang dibangun adalah mendialogkan pengetahuan dengan kehidupan. Meminjam istilah Ach. Dzofier Zuhri; Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Al Farabi Kepanjen Malang dalam tesisnya bahwa belajar bukan hanya memindahkan isi buku ke kepala, melainkan menguji kebenaran dan menghadapi ketidakpastian di alam nyata. Sejalan dengan apa yang digadang-gadang oleh Ki Hajjar Dewantara bahwa pendidikan tidak memakai syarat paksaan. Lebih tegas lagi bahwa “opvoeding” atau “paedagogiek” itu tidak dapat diterjemahkan dengan bahasa kita. dengan kata lain pendidikan kita adalah “among” atau “momong” memiliki arti pendampingan, atau lebih luas dari hanya pendampingan. Karena pendidikan tidak hanya bersifat kemantapan atau “antep, manetep” saja. Tetapi juga memiliki pengaruh terhadap kesucian pikiran dan kebatinan. Dalam konteks pendidikan dikenal dengan intelektualitas dan spiritualitas.

Lebih jauh lagi dari pada hanya membahas zonasi pendidikan, pendidikan nasional memiliki landasan kultur. Kearifan lokal menjadi jaminan atas kekayaan gagasan yang harus digali oleh setiap pendidik maupun peserta didik. Jangka panjangnya adalah kemantapan dalam diri untuk mengangkat derajat negara agar dapat bekerja bersama-sama dalam memuliakan segenap manusia atau masyarakat. Sedang jangka pendeknya adalah membangun pola pikir dan pola sikap yang luhur. Lebih tepatnya adalah mampu menghadapi setiap persoalan yang ada di depan mata, atau bertanggung jawab dan memiliki budhi luhur.

Oleh karenanya ilmu yang bermanfaat adalah hasil dari pendidikan yang memiliki daya guna. Pernah disinggung oleh L. Murbandono Hs bahwa pendidikan adalah pemandu pemikiran dan pelaksanaan. Dengan kata lain hasil dari pendidikan bukan hanya proses transfer pengetahuan dari buku atau isi kepala saja, dan begitu seterusnya, melainkan proses menumbuhkan daya guna pemikiran untuk kemudian dipraktikan dalam kehidupan sosial.

Kembali kepada pertanyaan awal, lantas bagaimana jika zonasi pendidikan dicabut? Apakah akan mempengaruhi terhadap semangat belajar serta semangat menumbuhkan rasa tanggung jawab, baik pada peserta didik pun pada pendidik itu sendiri? atau sebaliknya jika zonasi tetap dijalankan apakah menjamin tujuan-tujuan pendidikan akan berjalan sedemikian rupa? Karena masalah utamanya ada pada setiap personal peserta didik serta orang tua. Jika orientasinya adalah kesuksesan atau tercapainya tujuan pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Tantangan terberatnya adalah memahami sudut pandang yang beragam dari setiap masyarakat. Sehingga sangat perlu untuk menumbuhkan kesadaran bahwa pendidikan itu multidimensi. Dan yang terpenting adalah bagaimana menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta didik agar memiliki pengetahuan yang bermanfaat untuk kehidupan sosial.

Garis besarnya adalah pendidikan mampu menumbuhkan sikap peka dalam diri peserta didik, pun pendidik dan orang tua. Karena kesemua itu bagian dari element pendidikan. Dan agaknya memang perlu sekali urun rembug dari setiap element pendidikan. Agar pendidikan bisa berjalan sedemikian rupa, sesuai dengan pola kultur manusia indonesia yang beragam, baik suku bangsanya, pun pola pikirnya.

Setiap sistem dan aturan pasti memiliki dua kubu yang saling bertolak pandangan. Itupun satu kewajaran. Akan tetapi bagaimana jika fokus pandangan kita dibelokkan kembali kepada evalusai tujuan pendidikan. Dengan perkembangan zaman dan teknologi yang semakin besar pengaruhnya. Terutama bagi perkembangan peserta didik, serta kesiapan untuk menghadapi kehidupannya pasca menyelesaikan jenjang pendidikannya. Seperti halnya rantai, pendidikan sebenarnya mengikat pola pikir setiap peserta didik. Latar belakang pendidikan sedikit banyak mempengaruhi pola pikir dan pola sikap peserta didik di kemudian hari.

Penulis: Ahmad Dahri

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...