Sudahkah Kau Bersyukur Hari Ini?


Sudahkah Kau Bersyukur Hari Ini? Ada salah satu teman Facebook yang hampir setiap hari mengeluh. Terutama karena faktor ekonomi. Suaminya bekerja di pelayaran, jadi jarang di rumah.

Awal mula saya sempat iba dengannya, namun karena dia sangat sering posting keluhan, akhirnya saya unfriend. Bukannya apa-apa, takut tertular virus ngeluh gaess, hehehe...

Saya sendiri pernah mengeluh, tapi kan tidak harus di obral di sosmed tiap hari juga. Karena keluhan terbaik itu jika disampaikan kepada Pemberi kehidupan, kata pak ustadz sih gitu ^^.

Btw, anyway, busway, daripada ngeluh, kenapa kita tidak memperbanyak syukur saja kawan?

Bukankah uangmu yang tinggal satu-satunya di dompet adalah impian bagi mereka yang belum makan selama dua hari?

Bukankah istri atau suamimu yang cerewet adalah impian para jomblo yang bolak-balik ditolak cintanya sampai umur sudah setengah abad?

Bukankah kesehatan yang Kau nikmati hari ini adalah impian para pasien di Rumah Sakit yang jumlahnya ribuan?

Bukankah gubuk yang bisa Kau gunakan untuk istirahat melepas letih adalah impian gelandangan yang hanya bisa tidur di kolong jembatan atau emperan toko?

Bukankah anak-anakmu yang hiperaktif adalah impian suami istri yang sudah menikah puluhan tahun tapi belum dikaruniai buah hati?

Bukankah, mudahnya dirimu melakukan ibadah setiap hari adalah impian para muslim Rohingya?

Dan bukankah hidup yang sedang Kau jalani sekarang adalah impian mayat-mayat di alam kubur yang ingin kembali ke dunia untuk bertaubat?

Jadi, masihkah hari ini ingin mengeluh atau bersyukur?

Oleh: Ana Finurika
Kediri, 31 januari 2019

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...