Seandainya dalam hidup manusia ada tombol ‘undo’

Salah satu manfaat yang paling terasa dari kehadiran komputer adalah betapa mudahnya membatalkan keputusan.

Saat kita mengetik kalimat yang salah, lalu klik ‘undo’, naskah pun kembali seperti semula—kesalahan diperbaiki. Jika kita tak suka akan keberadaan sebuah foto yang di dalamnya kita terlihat gemuk, kita tinggal menekan ‘delete’. Lalu, seandainya kita tak sengaja menghapus sebuah dokumen penting, kita hanya perlu membuka recyclebin, klik ‘restore’. Maka, simsalabim, dokumen terselamatkan.


Sayangnya, hal demikian tak selalu berlaku dalam kehidupan.

Dalam hidup, ketika kita melakukan kesalahan—misalnya melukai hati seseorang, tak ada tombol ‘undo’yang bisa ditekan. Mau tidak mau, kita harus meminta maaf. Itu pun, tentu tak memperbaiki segalanya.

Kita juga tak bisa begitu saja menghindari tanggung jawab, hanya karena hal tersebut tak menyenangkan buat kita. Sebab, beberapa hal dalam hidup memang tak selalu berjalan sesuai keinginan.

Dan yang paling disayangkan, ketika seseorang yang kita cintai pergi meninggalkan dunia, sesedih apa pun kita, sederas apa pun air mata yang mengalir di pipi, tak ‘kan pernah bisa mengembalikannya.

Saya jadi teringat dosen saya, Pak Ahmad Syafiq, pernah berujar, “Seandainya dalam hidup manusia ini ada tombol ‘undo’, pasti sudah rusak karena begitu sering ditekan.”

Source: azharnurunala.tumblr.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...