Membela Prabowo-Sandi

Belakangan ini beredar di medsos tentang tantang-menantang atau ledek-meledek yang tidak produktif dari kubu pendukung capres-cawepres masing-masing.

Misalnya, mungkin karena jengkel lantaran Pak Jokowi selama ini diledek tidak fasih dalam berbahasa Arab, membaca ayat-ayat Al-Qur'an, dan menjadi imam salat, para "Jokowiyan" kemudian gantian membalas menantang Pak Prabowo untuk menjadi imam salat atau membaca Al-Qur'an. Bahkan ada yang berencana mengadakan lomba tes baca Al-Qur'an untuk keduanya.  

Belakangan juga santer terdengar kritikan keras dan ledekan nylekit terhadap Sandi yang nggak bisa wudlu dengan benar dan nggak tahu tata-cara berwudlu seperti diatur dalam buku-buku fiqih (hukum Islam).

Hal-hal begitu sama sekali tidak perlu dan tidak perlu untuk dibesar-besarkan apalagi dijadikan sebagai agenda kampanye untuk meraih dukungan pemilih dan memojokkan atau memelorotkan kubu lawan. Masyarakat Indonesia sudah tahu kalau Prabowo dan Sandi itu nggak bisa Bahasa Arab dan nggak paham seluk-beluk Islam. 

Jabatan pres-wapres itu tidak sama dengan jabatan imam salat atau guru Al-Qur'an atau Qiro'ati di madrasah atau masjid. Kalau mau memilih "imam besar" Masjid Istiqlal, "imam kecil" mushalla, atau guru ngaji "madurasa" (madrasah maksud ane), boleh lah dan perlu syarat-syarat kefasihan membaca Al-Qur'an atau pengetahuan tentang berwudlu dan menjadi imam salat.

Tapi kalau untuk capres-cawapres sama sekali tidak perlu dan tidak penting sama sekali karena memang tidak ada relevansinya. Lagi pula, orang yang fasih membaca Al-Qur'an dan pandai menjadi imam salat sama sekali bukan jaminan kalau ia bisa memimpin negara dengan baik.

Sudah banyak sekali contohnya di seantero jagat dunia Islam lebih dari semonas. Salah satunya adalah Mullah Muhammad Omar, pemimpin Taliban di Afghanistan yang gendeng-ndeng, pekok-njekok pecah ndase, ngawur-wur, dan bengis-ngis terhadap rakyatnya yang ia lakukan atas nama penegakkan tauhid dan Syariat Islam yang ia dan gerombolannya imajinasikan. 

Maka, akan lebih baik dan produktif kalau para pendukung masing-masing paslon fokus pada visi-misi, program kerja, dan rekam jejak kandidat ketimbang ngomongin soal imam salat, baca Al-Qur'an atau cara berwudlu yang sama sekali tidak bermutu.

Riyadh, Jazirah Arabia
Prof. Sumanto al Qurtuby

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...