Atribusi Duniawi

Detik demi detak toh akan sama saja. Kita akan berkawan dengan segala bentuk atribusi dunia, yang datang dengan muka-muka yang mungkin berbeda tetapi sama saja sensasinya. Ada yang membahagiakan, menyedihkan, menegangkan, menakutkan, dan apalagi menurutmu? Ya, sama saja. 

Percuma resolusimu di pengawal tahun untuk 'mendapatkan ini, menghindari itu’ sebab bila kau tak mampu maka itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Tak akan berkurang serba-serbi cobaan yang menghampirimu, yang unik dan otentik hanya untukmu seorang ; 

Dalam sebuah himpunan ke-barangkali-an di dunia ini, takkan ada peristiwa yang orang lain akan alami sebagaimana dirimu sendiri, takkan ada orang yang mungkin mampu menjalaninya selain dirimu, begitupun takkan ada orang yang sama takdirnya sebagaimana yang kau miliki. Hanya kau seorang, di dunia ini, dengan ceritamu sendiri. 

Bagaimana dengan cinta? Selama yang kau cintai manusia, maka ia akan berpotensi membuatmu bahagia sekaligus kecewa. Yang kau butuhkan barangkali kesediaan untuk bersabar dengan keluasan yang lebih lebar. 

Begitupun untuk hal-hal yang tak kau ketahui pernah membahagiakan atau mengecewakan seseorang. Barangkali ketika ia masih bersamamu, maka patut kau contoh kesabarannya menghadapimu.

Tidak lain dan tidak bukan, akan selalu ada siklus yang berputar menerus. 

Pernah mendengar, kalau cinta akan paripurna ketika kita sudah menggenapi dua hal.

Jiwa dan raga.

Secara raga, sudah bersentuhan fisik bahkan bercinta.

Secara jiwa, sudah merasa nyaman, berani mengungkapkan rasa sayang, dan mencintai satu sama lain.

Celakanya, berpisah juga sesulit itu bila keduanya sudah tergenapi. Lebih sulit daripada yang dibayang. Ada jejak-jejak di jiwa maupun raga yang takkan pernah kembali seperti semula. Bila itu sudah berbekas, maka akan tertinggal disana selamanya.

Bahagia dan kecewa hanya bagian dua mata uang yang dilempar semesta dan pasti menemui telapak tanganmu entah dari sisi yang mana, tetapi keduanya berpeluang sama besarnya. Maka dari itu, kau harus siap dan terbiasa. Mintalah pada Tuhan untuk menguatkanmu menghadapinya, bukan untuk menghilangkannya.

Special thanks to sahabat @miftahulfikri atas motivasinya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel