Kiai Achmad Siddiq, Kiai As’ad dan Kiai Ali Maksum

Perhari ini, 28 tahun lalu adalah puncak duka cita bagi warga NU. 23 Januari 1991, Rais Am PBNU KH Achmad Siddiq wafat dalam usia 64 tahun.

Saya yang hari itu takziyah ke kediamannya di Jember menyaksikan ribuan manusia tenggelam dalam duka atas kepergiaan Kiai Achmad. Orang-orang mempercakapkan siapa yang akan menggantikan Kiai Achmad. Kegelisahan menyebar di mana-mana.

Tahun itu warga NU hampir saja seperti ayam kehilangan induk. Sebab, para kiai yang menjadi jangkar warga NU meninggal dunia secara berturut-turut, dalam waktu yang tak berselang lama.

Sebelum Kiai Achmad, pada 4 Agustus 1990 Kiai As’ad Syamsul Arifin Situbondo (musytasyar PBNU) wafat dan 7 Desember 1989 Kiai Ali Maksum Krapyak (Rais Am PBNU sebelum Kiai Achmad Siddiq) juga wafat.

Hari-hari ini, walau tak persis sama, kita merindukan hadirnya sosok kiai seperti Kiai Achmad Siddiq, Kiai As’ad Syamsul Arifin dan Kiai Ali Maksum. Yaitu, kiai yang bisa memadukan antara wawasan keislaman dan wawasan kebangsaan secara sekaligus, kiai yang menerima Islam sebagai akidah dan menerima Pancasila sebagai dasar negara.

Disaat sekarang masih banyak tokoh Islam yang tak mau kembali ke pangkuan NKRI dengan Pancasilanya, saya selalu teringat tiga sosok kiai itu.

Pertanyaannya, apakah tiga kiai itu kalah alim dengan tokoh-tokoh Islam yang hingga sekarang menolak Pancasila sebagai dasar negara? Saya kira tidak. Tiga kiai itu memiliki penguasaan yang sangat dalam terhadap sumber-sumber keislaman yang otoritatif.

Bahkan, Kiai As’ad berburu ilmu hingga ke tanah Hijaz. Bertahun-tahun beliau menetap di sana. Kiai As’ad pun lahir di Mekah karena ayahanda, Kiai Syamsul Arifin, telah juga studi di sana sebelumnya selama 40 tahun.

Nafa'ana Allah bi 'ulumihim. Amin.....

Rabu, 23 Januari 2019
Salam,

Abdul Moqsith Ghazali

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel