Wahai para pemuda! Janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan sebagai Penulis

Dalam kajian tafsir ayat Ahkam,  sang ustadz menjelaskan ayat-ayat tentang hukum, namun agar suasana tidak menjadi tegang,  akhirnya beliau memberikan sebuah semangat sekaligus candaan kepada para hadirin :

ولا تموتن إلا وأنتم كاتبون

Wahai para pemuda! Janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan sebagai penulis.

Maknanya ialah setidaknya kalian sebelum meninggal, jangan sampai tak meninggalkan tulisan sama sekali.

Jadilah penulis kendati tidak harus menulis buku. Menulislah kapan dan di manapun saja. Apapun yang menjadi ide, gorenglah lalu bungkus dan sajikanlah menjadi hidangan tulisan yang lezat dan mengairahkan.

Ada sebuah nasihat " motivasinya menulis adalah menulis. Maka menulislah di manapun dan kapanpun itu asal bisa memberikan maslahat bagi individu lebih-lebih bagi khalayak umum.

Ya andaikan kita tiada,  tulisan itulah yang akan memperpanjang usia.  Bukankah banyak ulama yang telah ribuan tahun meninggal dunia tapi namanya masih diagung-agungkan hingga saat ini?".

Siapa yang tak kenal syeikh Muhammad Ibnu Malik,  Hujjatul Islam Imam Al Ghazali,  imam Nawawi, dan Imam Suyuti?  Masya Allah.

Beliau menambahkan di hadapan para jomblowun pada saat itu:

ولا تموتن إلا و أنتم ناكحون

Janganlah kalian mati dalam keadaan belum menikah. sontak suasana menjadi gemuruh,  mereka tertawa diiringi rasa malu mendengarkan nasihat itu.
Untung saja,  pada saat itu semuanya dihadiri kaum laki-laki,  jadi agak relatif aman dah.

Terakhir,  atau jangan-jangan mau ikut para ulama yang hidup membujang?
Para ulama itu membujang untuk menikah dengan ilmu.  Lha kalian yang mau membujang,  emangnya kuat menikahi ilmu?

By: Achmad Imron Rosadi

(kutipan pelajaran dalam buku "renungan kalam hikmah)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...