Toleransi dengan pengemis buta Yahudi

Maka benarlah Nabi Saw sebaik-baik suri tauladan, sebab darinya, sempurnalah islam.

Telah sampai kepada kita, kisahnya yang mulia, saat memberi makan kakek tua yang selalu menghinanya. Dikatakan penyihir sampai divonis gila. Hingga suatu ketika, suapan itu terasa agak berbeda dari yang pertama. Sang kakek bertanya,

"Siapakah kau?"

Abu Bakr ra menjawab, "aku adalah orang yang biasa."

"Bukan, kau bukan yang biasa, sebab dia selalu menyuapiku dengan lemah lembut, bahkan makanannya dilembutkan terlebih dahulu agar aku tidak susah untuk mengunyahnya." Kenang sang kakek Yahudi buta tersebut.

Untuk sesaat Abu Bakr bergeming, ia terhenyak dengan tangisan dalam diam.

"Orang yang biasa menyuapimu telah wafat, dan aku adalah sahabatnya, aku menyambung amalan ini, sebab tak pernah kulewatkan setiap amalan yang dilakukannya." Air mata pun meleleh dari Sahabat yang pertama kali membenarkan Isra Mi'raj Muhammad saw tersebut.

"Siapakah dia orang mulia itu?" Tanya kakek buta.

"Dia adalah Muhammad, orang yang senantiasa kau rendahkan dengan kata-katamu yang tak pantas."

Berderailah air mata, dari Kakek pengemis Yahudi buta, sungguh Muhammad insan mulia, bahkan pada yang berbeda agama. Hari itu syahadat menjadi bukti ke islamannya. Si kakek telah bertauhid menuhankan Yang Esa.

Lalu dilain kisah telah sampai kepada kita, tentang asbab turunnya surah Al-kaafiruun yang sering kita baca.

Walid bin Muhirah, Al-‘Ash bin Wail, Aswad bin Muthalib dan Umayyah bin Khallaf pada suatu waktu bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berkata,

“Wahai Muhammad, mari kita mengadakan persekutuan. Yaitu kita bersama-sama menyembah apa yang kami sembah, kemudian pada saatnya kami menyembah apa yang kamu sembah. Dan kita bersekutu dalam segala urusan apa saja. Kamulah yang menjadi pimpinan dalam hal ini.”

Sehubungan dengan tawaran tokoh-tokoh kafir Quraisy ini, maka Allah Subhanahu wata’ala menurunkan surah Al-Kafirun sebagai jawaban atas ajakan mereka tersebut. Secara tegas Allah Subhanahu wata’ala memberikan keterangan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa tidak ada persekutuan maupun persaudaraan antara orang-orang kafir dengan orang-orang beriman, baik dalam urusan apa saja.

(HR. Ibnu Abi Hatim dari Sa’id bin Mina)

Inilah sejatinya makna Toleransi antar agama. Tidak merusak akidah sesama. Jangan kau kaburkan perintah syariat dengan ilmu yang lahir kemaren sore, hingga terasa gampang saja bagimu mengucapkan yang tak seharusnya kau ucapkan.

Berbuat baiklah dengan mereka yang berbeda agama, sebab akhlak yang baik bukti syumiliah islam (kesempurnaan islam). Bukti bahwa islam adalah Rahmatan lil'alamin. Namun jaga batasannya, jangan keluar dari aturannya.

Biarkan mereka merayakan hari sucinya dengan suka cita, ini adalah wujud dari toleransi antar agama.

Jelas Allah swt katakan :

" Jangan kau campur adukkan antara yang haq dan batil, dan menyembunyikan yang haq sedang kau mengetahuinya" (surah Al baqorah)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...