Sebaik-baik Tempat Pencitraan adalah Media Sosial

Ya. Media sosial adalah tempat paling lega untuk mencitrakan diri. Itu semua karena di media konvensional, slot tempat pencitraan sudah dibabat habis oleh dominasi para selebriti, politisi, dan horang-orang terkenal lainnya. Tampil di media TV misalnya, dengan tatapan cuek tanpa perlu berkata sepatah katapun, seseorang sesungguhnya sedang mencitrakan dirinya. Ekspresi wajah dan  pilihan berbusananya adalah wujud citra dirinya, dengan sadar atau tidak sadar. Sayang, tidak semua orang bisa berkesempatan nongol di tivi.

Nah, berbeda dengan media konvensional, media sosial bebas slot, memberi ruang kita untuk mencitrakan dan dicitrakan. Wujudnya bisa dari foto atau video yang kita unggah, peristiwa yang kita rekam, ide-ide yang kita tuliskan, termasuk sumpah serapah yang seolah menegaskan kita adalah makhluk pemberani dan selalu benar.

Diam atau ceriwisnya kita terhadap suatu isu viral hakikinya juga wujud pencitraan, dalam arti positif ataupun negatif, baik diniatkan ataupun tidak. Tergantung siapa kita dan siapa yang menilai kita.

Tidak ada tempat seindah dan seluwes media sosial, dimana kita bisa jadi ‘ahli’ untuk semua ilmu. Di media sosial, hari ini kita bebas ‘mencitrakan diri’ jadi ahli politik, besok ahli agama, lusa ahli hukum, minggu depan jadi ahli kesehatan, dan bulan depan jadi ahli ekonomi. Sah-sah saja! Tidak ada yang berhak melarang di negeri demokratis ini. Coba di media cetak atau tivi, jangan harap Anda diberi slot untuk bicara sesuatu di luar keahlian Anda, meski Anda yakin pendapat Anda itu sahih.

Bang Zuki (M. Zuckerberg) punya Andil menciptakan dunia fesbuk yang kita tempati sekarang. Dunia tempat kita mengumbar kata dan saling sapa. Juga dunia tempat kita saling hina dan adu jumawa. Dunia yang kita genggam erat kemana-mana. Dunia tempat kita mencitrakan dan dicitrakan orang lain.

Bisa jadi, citra kita di media sosial itu kepalsuan yang kita ciptakan, bisa jadi citra diri kita di media sosial itu hanya make up prilaku agar kita senantiasa terlihat bahagia, inspiratif, dan menganggumkan, atau agar kita terlihat garang dan intelektual.

Merananya, mungkin sebagian kecil dari kita di media sosial ini adalah orang-orang yang gagal dalam pergaulan, gagal dalam persaingan hidup, kesepian dalam keramaian, tapi masih ingin terus bersuara di ruang sosial yang hingar bingar ini, seolah, kita menemukan tempat untuk memuntahkan ide dan emosi yang tak terkendali.

Biar bagaimanapun, media sosial tetap tempat terbaik untuk bersuara atau berkata-kata. Tapi seperti pesan Bang Zuki selaku tuan rumah buku wajah ini, pada akhirnya, “People don't care about what you say, they care about what you build”.

Jadi tutup sejenak dunia media sosial kita, giatkan bekerja, ciptakan sesuatu yang bermanfaat, wariskan sesuatu yang akan diingat.

Penulis: Teguh Arifiyadi, S.H, M.H., Founder Indonesia Cyber Law.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...