Najis dari Air Kencing dan Problematikanya

Pernah diwejang begini: “Sok nek muleh, warahono masyarakatmu babakan najis wae. Gak sah duwur-duwur (Kelak kalau kamu pulang, ajarilah masyarakatmu tentang najis saja. Jangan tinggi-tinggi)”

Bab najis. Adalah bab paling dasar bagi para santri. Bahkan saking dasarnya. Kadang banyak yang tidak memperhatikan. Padahal menurut kitab-kitab Madzhab Syafii sekelas Sulam Taufiq dan Taqrib sangat berat kalau dilaksanakan.

Air kencing, najis. Kotoran manusia dan hewan, najis. Darah, najis. Nanah, najis. Dan lain sebagainya. Karena sarat untuk melaksanakan shalat adalah terbebas dari najis, yakni harus suci. Bisa dibayangkan kan?! Kalau melakukan shalat dengan keadaan terkena najis. Capek, dapet. Tapi shalat harus mengulangi. Itu satu poin.

Selanjutnya kita ilustrasikan dengan kehidupan sehari-hari yang mau tidak mau kita melakukannya. Apa itu?! Keluar masuk kamar mandi!

Ketika kita kencing dan BAB. Percikan air seni dan percikan kotoran yang terkena air, kira-kira suci apa tidak?! Saya yakin santri sekelas Ibtida’ akan menjawab lantang, “Najiiiiisss”.

Najis itu bisa hilang, dengan catatan besar: --Kalau kurang dari dua kullah, seperti kebiasaan kita yang memakai cebok-- Air harus datang/di alirkan (Di sok kan: jawa) dan bentuk najis/Ain najis harus hilang. Serta perlu diketahui, aliran air pertama yang membawa bentuk najis sampai hilang, juga najis. Barulah aliran air kedua yang bersih dari bentuk/Ain najis, akan suci.

Yang jadi permasalahan adalah percikan dari air kencing/BAB, atau percikan air basuhan/aliran pertama yang notabene masih membawa najis. Kemudian sebelum disucikan, percikan itu tertumpuk dengan percikan-percikan lain yang ada kemungkinan sudah suci atau malah masih najis. Ini gimana?! Bagi yang berhati-hati dengan najis, akan sangat kesulitan. Tapi, bagi yang santai yang penting yakin suci, biasanya enjoy saja. Sebab kaidah itu najis atau tidak adalah: Adanya bentuk/ain najasah atau tidaknya. Selama ada ain najasah, najis. Tidak ada ain najasah, tidak najis.

Contoh simpel:

1. Kamar mandi/WC yang tiada pembatas atau semacam jebing kobokan antara tempat wudlu sampai masjid. Lha ini, percikan air dari WC yang jelas banyak najis berupa kotoran dan air seni, akan sulit di minimalkan. Kecuali pakai pendapat yang paling ringan, yang mengatakan percikan air kencing dari tempat najis selama tidak yakin itu najis, maka ndak masalah (Lihat Bughyah)

2. Tempat kencing menempel. Kencing dengan tempat kencing menempel seperti dalam hotel-hotel, saya yakin sangat riskan sekali terjadi percikan-percikan yang akan menempel ke celana, baik yang langsung menetes dari alat kelamin ke celana, atau dari tembok tempat kencing lalu memantul kembali ke pakaian.

Kalautoh dipaksakan mantab yakin tidak ada percikan, kemudian mengusapnya dengan tissu, tidak akan seratus prosen bisa suci. Kok bisa?! Iya!

Gini: Tissu dalam literatur Fiqh seperti halnya batu. Lha, menghilangkan najis dengan menggunakan batu, lalu dia wudlu hanya mengesahkan sholat yang dilakukannya. Tapi andai ada orang lain sholat. Kemudian orang yang bersuci pakai batu itu minta gendong. Batallah sholat orang itu, sebab dia termasuk membawa najis. Jadi hakikatnya, yang memakai tissu/batu belum benar-benar suci dari najis.

3. Air tidak boleh kena lantai. Ini lagi, tambah ruwet! Sudah beberapa kali tahu ada tempat/Mall yang menggunakan sistem itu. Kalau BAB atau kencing, air nggak boleh kena lantai. Kalau bersihinnya pakai tissu maka konsekwensinya ada pada contoh 2. Tapi kalau pakai selang yang seperti tembak itu, saya yakin najisnya malah nyiprat kemana-mana. Apalagi bagi yang mengamalkan Daimul Wudlu (Mendawamkan Wudlu) akan sangat kesulitan untuk melakukannya. Bagaimana mau Daimul Wudlu?! Wong nyuci kaki saja kesulitan?!

Jadi, yang sangat ideal adalah mengikuti orang-orang kuno dulu:

1. Kamar mandi ada kotaknya (Jedingan yang lebih dari dua kullah). Hilangkan tempat kencing nempel, jadikan satu dengan kamar mandi, yah seperti yang dilakukan mbah-mbah kita dulu lah.

2. Lantai bisa basah. Wong namanya kamar mandi kok. Ha masalah mudah kotor atau lainnya. Kamar mandi lho!? Ya wajarlah.

3. Ada penyekat/pembatas. Atau ada semacam jeding kobok yang memisahkan antara tempat yang biasa terkena najis/Kamar mandi dan tempat yang suci.

Wallahu A’lam bis-Shawaab.

Bagaimana?! Menurut hamba, kok lebih sulit mempraktekkan bab najis dalam kitab kecil semacam Sulam Taufiq dan Taqrib daripada bekerja.

Penulis: Gus Robert Azmi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...