Literasi Kuburan dan Masa depan Semua Manusia

Semua manusia akan mati. Kuburan adalah masa depan semua orang. Tak mengingat kuburan adalah melupakan masa depan.

Peradaban di mana pun punya ritual khusus kematian. Jenazah diperlakukan secara sakral dengan beragam cara dan dasar kepercayaan.

Kuburan merupakan simbol penghormatan dan sakralitas sebagaimana pemumian dan kremasi jenazah -- disebut ngaben di Bali -- dan bentuk/cara penghormatan dan penyakralan lainnya.

Orang-orang Yunani Kuno menjadikan monumen para pahlawan mereka sebagai pusat kultus dan sakral. Inilah "kuburan" versi Yunani Kuno. Monumen pahlawan Akademos, misalnya. Di sudut taman monumen ini, Plato merintis lembaga pendidikan ilmiah yang kelak hari disebut Akademia Plato.

Literasi kuburan menjadi penting. Potensi sejarah, arkeologi, antropologi, religiusitas dan spiritualitas dari kuburan, misalnya, merupakan pendaman pengetahuan yang butuh daya literasi agar tergali dan termaknai.

TOLERANSI KUBURAN

Sebuah kuburan orang Kristen di Yogyakarta nisannya berbentuk salib dipotong bagian atasnya menjadi seperti huruf T. Ini bukan peristiwa kriminal atau vandal.

Sebelumnya telah ada kesepakatan bersama atas nisan itu lantaran kuburan itu berada di lokasi pekuburan orang Islam.

Kesepakatan tersebut merupakan wujud toleransi, sebuah titik tengah hasil negosiasi bersama.

Polemik intoleransi atas peristiwa ini justru menyalahpahami toleransi yang telah terjelma.

Kuburan Online dan Minimarket Kuburan

Setelah menempuh dan singgah di beberapa titik lokasi di Tuban dan Lamongan, rombongan muktamar mencatat tak sedikit renungan. Beberapa tema sempat tersembul dalam percakapan saat mereka melaju ke lokasi muktamar: Kompleks Kuburan Nyai Ageng Pinatih di Gresik.

Pukul 9 malam, pengalaman, ide dan renungan rombongan muktamar tersuarakan di antara kuburan-kuburan di lokasi muktamar. Dari sebagian yang hadir, tanggapan dan pertanyaan, dialog, mengalir hingga tengah malam.

Kenapa kuburan seseorang diziarahi sejak ratusan tahun silam hingga sekarang? Apa yang mendorong orang-orang berziarah?

Berziarah bukan semata menabur bunga dan berdoa. Berziarah adalah berjumpa. Berziarah adalah membaca "pustaka" biografi yang diziarahi.

Kuburan adalah perpustakaan dan museum biografi. Setiap kuburan merupakan pustaka yang bisa dibaca.

Menuju kuburan Maulana Ibrahim Asmaraqandi, misalnya ada lorong panjang kios-kios aneka barang. Sebuah pasar. Ruang "materialisme" ini seperti gerbang sebelum sampai ke ruang religiusitas dan spiritualitas: masjid dan kuburan.

Ramainya kuburan merupakan kerumunan yang mendatangi pustaka dan museum biografi. Tak ada pasar di kuburan. Tak ada kesibukan jual-beli di sekeliling nisan. Materialisme telah tertinggal di pasar.

Bagaimana jika lahan kuburan habis?

Bertahun silam saya mengusulkan "kuburan online". Setelah sekian tahun, kuburan dipotret sebelum ditimpa kuburan lain. Potret kuburan di-input ke dalam website dan peziarah bisa mengaksesnya dari mana dan kapan pun melalui telepon genggam. Ziarah kubur digital merupakan peristiwa lazim di masa depan. Sebagaimana video call dan teleconference bagi mereka yang belum terkuburkan.

Juru kunci dan pengurus kuburan bisa terbantu kebutuhan kehidupan sehari-harinya melalui sumbangan peziarah di kotak derma dan dari sumber-sumber yang lainnya.

Perlukah "minimarket kuburan" yang menyediakan kembang, kafan, nisan dan barang-barang keperluan lainnya yang dikelola oleh para juru kunci dan pengurus kuburan? Ataukah membekali mereka keterampilan IT agar bisa mengelola website kuburan?

Hal-hal futuristik itu mengemuka lagi di muktamar. Juga ide imajinatif kuburan di udara atau angkasa tatkala lahan kuburan di bumi tak ada lagi.

Banyak yang berlintasan dalam Muktamar Kuburan 2018 di Gresik. Sepanjang catatan ini dan dua catatan sebelumnya merekam sebagian kecil saja renungan, ide dan ilham yang hadir dalam muktamar ini.

Muktamar ini merupakan upaya mandiri beberapa pekerja sastra yang berminat dan berkomitmen terhadap realitas kebudayaan.

Kuburan sebagian kecil dari situs kebudayaan yang memendam kekayaan tradisi, pengetahuan dan hal-hal lain yang kemungkinan-kemungkinannya masih tersembunyi.

Penulis: Binhad Nurrohmat
Link FB: facebook.com/binhad

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel