Kisah Sukses Sanjaya Arifin, Pengusaha Kerajinan Kardus

Di Jawa Pos, hari ini, ada berita kreativitas Mas Sanjaya Arifin. Pria gundul ini sekarang sukses menjadi pengusaha kerajinan kardus.

Kesuksesannya bermula dari kado ultah untuk buah hatinya, Senandung Bumi, yang ingin dibelikan rumah Barbie. Namun, setelah mengecek harga, dia urung membeli. Akhirnya, dia memutuskan membuat dan merakit rumah Barbie dari tumpukan kardus di tempat kerjanya. Anaknya senang dengan kejutan unik ini.

Singkat cerita, Mas Sanjaya mulai membuat kerajinan berbahan baku kardus dan memasarkannya via medsos. Bentuknya bervariasi. Ada yang berbentuk kapal, kastil, rumah, dan seterusnya. Bahkan ada yang minta dekorasi berbahan baku kardus.

Respon berdatangan, omzet melesat. Dia mulai kewalahan. Akhirnya memutuskan keluar dari tempatnya bekerja sebagai satpam. Tak disangka, setelah resign, pesanan sempat turun, karena desainnya statis dan tidak variatif. Tapi Mas Sanjaya tidak menyerah. Dia terus belajar desain, dan memperbaiki konsepnya. Termasuk jenis mainan yang dirakit.

Ada dua hal yang bagi saya menarik. Pertama, seorang ayah yang membuatkan dan menghadiahkan mainan untuk anaknya. Bagi seorang anak, seringkali tidak penting bentuk mainannya bagus atau tidak. Selagi dibuatkan sendiri ayah atau ibunya, dia akan gembira dan bahagia bermain dengan produk buatan ortunya.

Avisa, anak pertama saya, pernah minta dibelikan kereta pink dalam episode Strawberry Shorcake. Saya cari via toko daring, nggak ada yang menjual. Akhirnya, saya siasati bikin dari kardus. Pilihan utamanya kardus Gudang Garam, bisa juga Sampoerna A-Mild. Alasannya, tebal dan nggak gampang rusak. Di Jalan Semarang, Surabaya, penjual kardus berjajar. Mayoritas orang Madura. Kardus Gudang Garam dihargai Rp 10.000, kalau kardus A-Mild Rp 8.000. Saya otak-atik berdasarkan teknik dari Youtube, akhirnya jadi juga. Kereta milik Strawberry Shorcake yang sama sekali nggak mirip. Hahaha. Nggak apa-apa. Anak senang, ayah senang.

Ilkiya, anak kedua saya, pernah merengek minta dibelikan robot Optimus Prime, tokoh Transformers, seperti yang dia lihat menari-nari bersama geng Autobots-nya di Youtube. Saya melongo melihat harga yang dipajang di toko online. Agar anak tetap senang dan ayahnya bisa hemat, saya menyiasatinya dengan membuat sendiri. Bentuk tubuh dibikin dari kardus Club, sedangkan roda Optimus Prime dari VCD yang tidak dipakai. Bentuknya memang babar blas nggak mirip dengan Optimus Prime, hahaha, tapi saya senang, anak saya juga senang.

Poin kedua. Tentang keuletan Mas Sanjaya. Dia hanya lulusan SMP, kemudian jadi satpam, lantas berwirausaha. Dari sini jelas, Indonesia itu nggak kurang jumlah orang pintar. Sebab setiap satu tahun, bahkan ada yang satu semester sekali, kampus melahirkan orang pintar baru. Mereka bergelar dan masih segar dengan berbagai ilmunya. Tapi mengapa lowongan pekerjaan masih dicari? Dan bursa kerja ramai diserbu? Saya menduga, melonjaknya jumlah orang pintar bergelar ini tidak diikuti dengan tumbuhnya orang-orang kreatif.

Para fresh graduate ini seringkali gagal mengukur kualitas diri. Pengennya langsung dapat kerja, duduk di kantor, karier naik setiap tahun sekali, dikelilingi fasilitas, beli ini-itu, dan seterusnya. Padahal, tidak semudah itu, Ferguso!

Apakah ini salah, Marimar? Tidak. Tidak. Sah-sah saja. Toh yang sukses dengan kariernya juga banyak, sebanyak para sarjana yang pusing mencari pekerjaan.

Belajar dari kisah Mas Sanjaya di atas, kreativitas memang bisa menambal lubang ekonomi. Kuncinya, kreatif dan tidak gengsi. Di Indonesia ini, orang sering kali gengsi, malu, dan tidak percaya diri dengan bidang yang ditekuninya. Jualan produk online, malu. Alasannya dianggap pengangguran oleh tetangganya. Lha, ngapain juga peduli omongan tetangga kalau dia sama sekali nggak ngasih modal? Hahaha. Cuek saja. Jalani. Ada juga yang usaha jualan kripik, tapi nggak pede. Padahal rasanya enak. Tinggal kembangkan varian rasa, percantik kemasan, dan PERBAIKI MENTAL. Jadi, deh!

Ini soal mentalitas. Di antara kita mungkin masih ada yang pintar tapi kuper. Ada juga yang kreatif tapi minder. Itu bukan soal lowongan kerja, Ferguso, tapi soal mentalitas. Dan, yang terakhir ini berkaitan dengan kemauan dan kemampuan. Mau tapi kuper, dan mampu tapi minder. Keduanya harus disingkirkan ke dalam gua, di tempat sunyi hukuman para dewa.

Penulis: Rijal Mumazziq Z
Link FB: facebook.com/penerbit.imtiyaz

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...