Kisah Raja Iskandar Dzulkarnain dan Raja China

Seperti kita ketahui dalam berbagai literatur sejarah dan sebagian uraian dalam al-Qur’an. Nama Iskandar Dzulkarnain digambarkan sebagai lelaki luar biasa. Ia mampu menguasai belahan bumi timur sampai barat. Mencari mata air kehidupan yang menyebabkan keabadian bersama Balya Ibnu Malkan, Nabi Khidir. Melakukan perjalanan secepat kilat empat puluh hari empat puluh malam menembus galaksi. Dan kisah-kisah unik lainnya. Seperti halnya kisah Aleksander the great yang dengan kekuatan tentara mahabesarnya tidak mampu menaklukkan daerah sekitar India. Begitupula Raja Iskandar Dzulkarnain. Dalam sebagian legenda, Beliaupun tidak menaklukkan China dengan balatentaranya, tapi dengan ilmunya.

Syaikh Asfahani mengisahkan sebuah legenda tentang Raja Iskandar Dzulkarnain dengan Raja Shiin (China) yang terjadi jauh sebelum Masehi. Dan akan hamba tuliskan seringkas mungkin dengan sedikit bumbu tentunya, ekhem:

Ketika ekspedisi besar balatentara Raja Iskandar Dzulkarnain mencapai daratan China. Suatu malam, salah satu pengawalnya berbisik padanya, bahwa didepan ada salah satu utusan Raja China yang ingin menemuinya. Sang Raja mengangguk dan menyuruh agar utusan itu masuk kedalam. Setelah masuk dan menjura dalam.

“Kalau Raja ingin yang hadir disini menyingkir. Silahkan beri titah” kata pengawal pribadi Raja Iskandar Dzulkarnain.

Sang Raja mengangguk. Dan semua yang hadirpun beringsut semua kecuali satu pengawal pribadi Beliau.

“Maaf Raja,” sela utusan Raja China, “Apa yang perlu hamba sampaikan. Hanya bisa didengar oleh paduka saja”

Raja Iskandar Dzulkarnain manggut-manggut. Lalu menyuruh pengawal pribadinya untuk memeriksa dan menggeledah dengan seksama apakah utusan itu membawa senjata. Setelah usai dan dinyatakan bersih. Raja Iskandar Dzulkarnain meloloskan pedangnya dan menempatkan di depannya, yakni antara dia dan utusan Raja China. Lalu menyuruh pengawal pribadinya untuk keluar. Kemudian, setelah keduanya sendirian:

“Silahkan berdiri dan katakan apa yang ingin anda katakan” kata Raja Iskandar Dzulkarnain.

Sambil menatap tajam dan tenang, utusan itu berkata, “Ketahuilah, aku sendiri adalah Raja China. Bukan utusan. Aku kesini ingin menanyakan. Apa yang kau inginkan dariku. Kalau aku mampu untuk  melaksanakannya walau dengan susah payah, aku akan memenuhinya, agar antara aku dan anda tidak terjadi peperangan.”

“Apa yang membuatmu begitu percaya padaku?”

“Sebab anda adalah orang cerdas, orang berakal sempurna. Sebelumnya antara kita tiada permusuhan. Tidak ada keinginan untuk agresi. Dan mustinya, andapun juga tahu. Ketika anda menyerang kami. Kamipun akan mepertahankan negara kami, kami tidak akan menyerah. Dan andaipun aku kalah, maka rakyat kami akan mengangkap pemimpin lain. Kemudian merekapun akan menyematkan julukan tidak indah dan tidak bijaksana; cerdas pada anda”

Mendengar uraiannya. Sejenak, Raja Dzulkarnain menundukkan kepala. Berfikir keras. Mengangkat kepala dan membenarkan apa yang dikatakannya. Dan iapun menyimpulkan, bahwa Raja China ini adalah Raja yang cerdas sekaligus bijaksana. Sejurus kemudian, malah Raja Iskandar mempunyai keinginan aneh:

“Baik, aku ingin selama tiga tahun kedepan. Kau hebatkan kekuasaanmu. Bisa kau mulai setengah tahun pertama untuk mulai memajukan, meningkatkan dan membesarkan kekuasaanmu, sampai seterusnya.”

“Hmm … Adakah yang lain?”

“Tidak”

“Baik, akan kulakukan permintaan anda.”

Dijawab lempeng begitu, malah Raja Dzulkarnain penasaran:

“Lha, dan apa yang kemudian akan kau lakukan?”

“Pertama aku akan berantas semua yang memerangiku. Lalu memberi makan golongan-golongan yang ada tanda-tanda akan menyerangku”

“Kalau aku baru puas apabila kau mampu memajukan negaramu dalam tempo dua tahun. Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan membaiki rakyatku. Dengan semua metode yang aku suka. Apapun yang aku suka, akan kuperuntukkan untuk rakyatku, begitu pula sebaliknya”

“Kalau seperenamnya, yakni aku baru puas apabila kau mampu memajukan negerimu hanya dalam tempo setengah tahun?!”

“Aku hanya mampu menyempurnakan seluruh perintahku pada bawahanku. Selanjutnya, tergantung para tentara bawahanku dan para penyangga kerajaan; para pejabat. Baik Baginda, kalau begitu, sudah cukup bagi hamba. Hamba akan undur diri.”

Ketika pagi menjelang dan matahari mulai menampakkan kilaunya. Terdengar suara gemuruh tapak kaki. Dan ternyata diluar perkemahan tentara Raja Iskandar. Tentara Raja China tumpah ruah seakan memenuhi seantero Bumi. Mereka mengepung tentara Raja Iskandar! Hingga membuat tentara Raja Iskandar khawatir itu adalah hari hancur leburnya. Dengan semburat, mereka melompat menaiki kuda, dan menempati posisi bertahan, siap perang!

Diantara tentara yang luar biasa banyak dan gagah itu. Nampak Raja China dengan agungnya menunggang gajah besar dengan gading menjulang. Dan ketika ia melihat Raja Iskandar. Raja China turun dari gajahnya, berjalan kaki menuju Raja Iskandar, lalu menjura dalam sekali dihadapannya.

“Apakah kau akan menghianati janjimu?” tanya Raja Iskandar.

“Tidak. Demi Tuhan ….”

“Untuk apa para tentara ini?”

“Aku hanya ingin memberitahumu. Aku taat padamu bukan karena kami adalah bangsa kecil dan lemah. Seperti yang anda lihat. Tentara ini banyak sekali. Bahkan tentara cadanganmu yang sekarang tidak ada disinipun, tidak mengalahkan banyaknya mereka. Tapi, yang kulihat adalah Dzat yang maha tahu, yang maha besar, yang menghadapkanmu kesini, dan yang mengokohkan langkahmu untuk kesini. Dzat yang lebih kuat darimu dan dariku. Serta yang punya balatentara lebih banyak dari kita. Hingga aku tahu, siapapun yang akan memerangi-Nya akan kalah dan tertindas. Karenanya, aku ingin taat kepada-Nya dengan cara mengikutimu. Merendahkanmu, berarti merendahkan-Nya”

Tertegun Raja Iskandar mendengar ucapan Raja China itu.

“Hmmm … Betul … memang tidak pantas kalau sesuatu dirampas dari orang sepertimu. Aku kira, tiada seorangpun yang berhak menyandang keutamaan, serta lebih cerdas dari anda. Dan dengan ini, aku yakin, kau akan mampu memenuhi apa yang kukehendaki. Baik, kalau begitu, aku dan balatentaraku akan pergi dari sini.”

“Baik, kalau itu keinginan paduka Raja. Dan itupun tidak membuat paduka Raja rugi”

Lalu, Raja China memberikan hadiah luar biasa banyak, berupa barang-barang antik sekaligus peneguhan perjanjian yang dilakukan mereka berdua kepada Raja Iskandar Dzulkarnain. Dan Raja Dzulkarnain mengundurkan balatentaranya.

Wallahu A’lam Bis-Shawaab

--------------------------
Dikisahkan oleh: Kyai Robert Azmi dari Ponpes Al-Fatah Pule Nganjuk.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...