Kisah Gus Maksum membanting Sapi Brahman

Percaya atau tidak. Waktu mondok dulu, pernah melihat sendiri dan mendengar dari penuturan kawan-kawan kamar yang mendengarkan langsung. Bahwa almarhum almaghfurlah Mbah Yai Maksum Jauhari (Salah satu pendiri PagarNusa) sering menunjukkan maziahnya (Keistimewaan yang diluar adat dan akal manusia biasa).

Diantara maziah beliau yang sering hamba kisahkan pada santri desa adalah ketika membanting sapi brahman. Tahu sapi brahman?! Sapi yang tingginya setinggi manusia dan berwarna coklat kemerahan itu, dipegang kepalanya. Beliau pasang sedikit kuda-kuda, lalu puntir kekiri, dan mak mbeggh! Sambil menghardik, “Sapi kurang ajar!”. Gara-garanya waktu melihat-lihat sapi miliknya itu. Entah kenapa tiba-tiba sapi itu beringas dan menanduk Beliau. Santri-santri yang melihatnya hanya melongo. Ini sapi lho sodara. Yang besar lagi. Wong sapi kecil yang warna putih itu saja tidak cukup orang satu kok. Apalagi yang brahman?! Tapi, bagi yang belum pernah menyaksikan maziyah Beliau, akan mudah menyibir, “Heleh, paling itu hanya bumbu-bumbu kabar saja. Selebihnya. Preeettt” makanya dari awal saya katakan boleh percaya, boleh tidak. Andai tidak percaya, asli! tidak akan mengurangi ta’dlim kami sebagai santrinya, apalagi yang benar-benar melihat dengan mata kepala sendiri. Lahu walijami’i Masyayikhi Lirboyo, AlFaatihah …

Kisah-kisah kekuatan super seperti Beliau, banyak kita temui dalam film-film mulai Indonesia, Bollywod sampai Bollywod. Tapi, yang terekam sejarah dengan catatan dari orang-orang ampuh yang kitabnya dikaji karena kealiman dan kezuhudan serta seabreg ketaatan pada Ilahi Rabbi, jarang! Seperti kisah Sayyidina Ali yang mengangkat pintu benteng sendirian. Ternyata setelah diletakkan, baru bisa dipindahkan oleh belasan para sahabat.

Ada seorang sahabat yang tidak begitu terkenal dalam catatan sejarah. Tapi, beliau adalah mujahid luar biasa. Dengan skill yang luar biasa. Yakni Sahabat Amr bin Ma’di Yakrib Radliyallahu ‘Anhu (Dulu saya mbacanya: Makde Kariba hihi)

Tentang keislaman Beliau, para ulama sepakat. Gagah, sepakat. Ahli Syair, sepakat. Ahli pidato, sepakat. Ahli pedang, sepakat. Kuat luar biasa, sangat sepakat!

Apakah Beliau masuk Islam langsung bertemu dengan Baginda Nabi Shallallahu Alayhi Wasallama?! Ulama, khilaf. Hingga ada yang mengatakan, setelah Kanjeng Nabi wafat, Beliau sempat goyah sampai keluar dari Islam. Lalu masuk Islam lagi dan menjadi pejuang sejati. Hampir semua pertempuran untuk menyebarkan agama Islam Beliau ikuti hingga dipenghujung umurnya yang keseratus. Dan ada yang mengatakan sebab kewafatannya adalah akibat luka yang dideritanya dalam pertempuran Nahawan (Nahavand, Iran) 21 H./643 M.

Pernah suatu ketika Khalifah waktu itu, Sayyidina Umar RA. bertanya pada para Sahabatnya:

“Siapa yang paling dermawan dari bangsa arab?”

“Khatim” jawab para sahabatnya (Entah Beliau Khatim bin siapa, hamba belum mencarinya).

“Yang paling jago menunggang kuda?”

“Amr bin Ma’di Yakrib”

“Yang paling pintar bersyi’ir?”

“Imri-il Qais”

“Dan pedang siapa yang paling menghabiskan (baca: Dasyat)?”

“Shamshamahnya (Nama pedang. Yang bermakna asal: Pedang keras pemotong) Amr bin Ma’di Yakrib, semoga Allah meridlainya”

Ada yang mengatakan: “Shamshamah Amr bin Ma’di Yakrib dibuat dari besi peninggalan leluhurnya yang terpendam dibawah Ka’bah. Dan dari besi itu pula, salah satu pedang Rasulullah SAW. Dzul-Faqqar dibuat!”

Apa yang dijawab para sahabat atas pertanyaan sayyidina Umar itu, bukan tanpa dasar. Itu dibuktikan oleh sahabat Amr bin Ma’di Yakrib waktu kecamuknya perang Qadisiyyah. Perang penaklukan Persia/Iran yang dipimpin jendral Islam Sa’d bin Abi Waqqash yang membawahi 48 ribuan tentara Muslim, melawan 130.000 an tentara kerajaan Persia yang dipimpin Jenderal Rustum Farrahzad dengan korban 7000 dari pihak muslim dan 40.000 dari pihak Persia, itu. Akhirnya dimenangkan oleh pihak muslimin dengan terbunuhnya jendral Rustum. Siapa yang membunuh sang jendral?! Saya yakin pembaca yang budiman bisa menebaknya. Iya, yang membunuhnya adalah sahabat Amr bin Ma’di Yakrib!

Yakni ketika Jendral Rustum mengomando pasukan dengan gajah besarnya yang juga mengangkut 40.000 dinar, Sahabat Amr bin Ma’di Yakrib menghadangnya. Dan dengan sekali tebas. Gajah yang ukurannya sak hohah itu, njungkel! Dan tebasan kedua menghantarkan jendral Rustum ke akhirat! Saking hebatnya, para ahli sejarah berkata, “Mulai zaman jahiliyyah sampai Islam, tiada tebasan pedang sedasyat itu!”

Wallahu A’lam bis-Shawaab.

Dikisahkan oleh: Gus Robert Azmi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...