Keunikan Definisi Sunnah Menurut Imam Syairazi

ْDari kajian Al-Luma': Imam Syairazi sangat teliti dan hati-hati ketika mendefinisikan hukum sunnah atau mandub. Beliau mengatakan sunnah adalah :

ما رسم ليحتذى به على سبيل الاستحباب

Sesuatu yang untuk diikuti dengan landasan mendambakan cinta.

Menurut beberapa sumber redaksi tersebut juga dipakai oleh seorang ulama Hanbali Abu Ya'la al-Farra'. Kedua ulama tersebut kalau dilihat dari sejarah, hidup dalam kurun yang bersamaan. Mungkin redaksi tersebut adalah definisi sunnah yang populer saat itu.

Imam Syairazi tidak menggunakan definisi sunnah yang sering kita hafal yaitu apa yang kalau dilakukan dapat pahala dan kalau ditinggalkan tidak dosa.

Beliau sungguh sangat cerdik. Yang pertama, orang yang melakukan amalan sunnah belum tentu dapat pahala, karena untuk mendapatkan pahala tentu memerlukan banyak perangkat pendukung tidak hanya cukup jungkir balik melakukan sunnah.

Kedua mendefinisikan sunnah bahwa pelakunya dipastikan mendapat pahala, ini akan terjerumus ke pendapat aliran rasional mu'tazilah bahwa Allah wajib memberi pahala kepada yang taat dan wajib menyiksa yang durhaka.

Imam Syairazi sungguh sangat humanis, mendefiisikan Sunnah dalam perspektif kemanusiaan, yaitu bahwa sunnah adalah melakukan tidakan demi mendambakan cinta Allah dan karena cinta pelakunya kepada Allah. Bukan karena pahala dan siksa.

Cobalah kita rasakan, ibadah kita sering kering karena kita hanya berharap imbalan. Ibadah kita begitu nikmat manakala landasannya adalah cinta. Wallahu a'lam bissowab.

Penulis: Ustadz Muhammad Niam

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...