Jual Agama demi Kenikmatan Duniawi

Kata kawanku disela-sela ndegan bareng beberapa hari lalu:

"Ayahku bilang begini, 'Alfiyyah?! Bisa kamu mengetesnya padaku sekarang. Tapi, kamu tahu, tidak?! Alfiyyah tidak bisa dibuat cari uang!'."

"Ngoahahaha ..." gelakku dan teman karibku mendengar kata-katanya.

"Wah, kebalikan dari ayahku, dong. Kalau ayahku dawuh, 'Aku tidak takjub kalau kamu bisa ndukun. Yang ku-nggumunkan, kalau kamu bisa hafal alfiyyah sekaligus murad ples prakteknya!"

Seakan bertentangan, bukan?! Satunya, sepintas tidak memandang Alfiyyah, dan yang lain menyanjungnya.

Tapi, sebenarnya sangat tidak bertentangan wahai pembaca yang budiman.

Sebab, Insya Allah apa yang diucapkan ayah karibku, memberikan satu arahan yang kupahami, yakni, "Nak, sekali-kali jangan menggunakan Alfiyyah (Baca: Agama) untuk mencari materi dunia. Itu hina, Le!"

Sedang apa yang di diwejangkan ayahku, minimal punya pengertian:

"Sing mempeng, Le! Carilah ilmu seluasnya. Ilmu sekuatmu! Waktunya?! Sampai kamu terbaring ke liang lahat. Karena amal tanpa ilmu, sia-sia, Le! Sia-sia. Dia tidak akan mendapatkan kemulyaan!

Kamu ingatkan kisah Barseso yang santri-santrinya bisa mabur?! Karena nafsu, dipenghujung hidupnya ia menyia-nyiakan ilmunya! Ia menenggak miras, lalu zina, kemudian membunuh! Neraka, Le... Neraka ...

Kamu juga ingat kisah hamba yang ahli ibadah pemilik sapi itu kan?! Karena ketidak tahuannya. Ia beribadah habis-habisan. Lalu untuk menyalurkan hasrat seksnya. Ia menggauli sapi betinanya. Dan ketika ada yang memberitahu, ia hanya bisa nangis sesenggukan.

Kamu juga pernah dulu kukisahi kisah Syaikh Abdul Qadir al-Jailany dengan Iblis, kan?! Entah berapa banyak ahli ibadah yang tersesat oleh bujuk rayu Iblis yang mengaku Tuhan. Tapi luruh dengan Syaikh Abdul Qadir sebab ilmunya.

Kamupun juga pernah ikut ngaji Ta'lim denganku. Ingat perkataan, 'Satu orang Alim yang ahli ibadah lebih baik dari seribu ahli ibadah tapi tidak alim'

Dan kamu juga ingat kan, Le?! Dari dalam tidur tenangku, kulihat kau menimang ijazah tanda kelulusanmu. Bukankah tulisan yang mengitarinya adalah hadist Baginda Nabi Shallallahu Alayhi Wasallama demi menyikapi akhir zaman campuh yang kelak kau hadapi?!

إحياء علوم الدين - (ج 1/ص: 7)
وقال صلى الله عليه و سلم إنكم أصبحتم في زمن كثير فقهاؤه قليل قراؤه وخطباؤه قليل سائلوه كثير معطوه العمل فيه خير من العلم وسيأتي على الناس زمان قليل فقهاؤه كثير خطباؤه قليل معطوه كثير سائلوه العلم فيه خير من العمل

'Sungguh! kalian (wahai para sahabatku), hidup di zaman yang banyak  fuqaha’nya (ulama), Sedikit orang yang suka membaca dan sedikit penceramahnya. Sedikit yang minta-minta, banyak yang memberi. Beramal pada waktu itu lebih baik dari berilmu. Dan akan datang pada manusia, suatu zaman yang ulamanya sedikit, namun penceramahnya banyak. Sedikit orang yang memberi, banyak peminta-minta. ILMU PADA WAKTU ITU LEBIH BAIK DARI AMAL'

Jadi, ilmu pada waktu kamu menghadapi harimu kelak adalah yang paling mulia, yang paling baik. Teriring doaku agar kau mampu mengamalkannya sepenuh hatimu. Semoga kau ingat akan ini, Le. Dari tempat yang sejuk, nyaman dan indah ini. Aku akan senantiasa memandangmu dengan sayang."

Dikisahkan oleh: Gus Robert Azmi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel