HERUCAKRA dalam Tradisi Revolusi Politik di Indonesia

Sejarah peradaban Nusantara dipengaruhi oleh peradaban, budaya dan religi Hindu-Buddha selama ribuan tahun. Pembentukan monarki awal di Nusantara adalah hasil akulturasi dan asimilasi budaya Austronesia dengan budaya atau peradaban yang datang dari Asia Selatan. Budaya itulah yang kemudian mengalami sublimasi dan diperkaya oleh budaya Islam dan Timur Tengah hingga melahirkan wajah utama peradaban Nusantara, khususnya di Pulau Jawa sebagai episentrum kekuatan sosial, politik, ekonomi dan religi di Indonesia saat ini.

Herucakra adalah konsep yang inheren dalam peradaban Nusantara. Ia adalah fenomena besar dan berulang sepanjang sejarah perubahan, pergolakan, dan perjuangan massa rakyat dalam psikologi ketertindasan atau keterpinggiran melawan kekuatan dominan atau hegemoni yang diproyeksikan akan mengancam, menggerus, merusak, menghancurkan dan memusnahkan jagat kosmologis budaya dan politik di wilayah yang kita kenal sebagai Indonesia hari ini.

Herucakra diyakini sebagai mesias atau utusan Tuhan yang akan hadir dari waktu ke waktu, dari masa ke masa, dari zaman ke zaman, dari abad ke abad, dan dari milenium ke milenium untuk menyelamatkan rakyat banyak dari eksploitasi, penindasan, kemiskinan, penggusuran, zat-zat adiktif yang melemahkan fisik, mental dan pikiran, ketakutan, kemunduran, kejahatan terorganisir, kebobrokan pemerintahan, kebohongan kekuasaan, manipulasi, korupsi, kolusi, nepotisme, kriminalisasi, adu domba, penyalahgunaan hukum, dan penyimpangan prinsip bernegara.

Konsep Herucakra ini berasal dari peradaban Hindu-Buddha, yang tentu saja berbeda dengan konsep Imam Mahdi yang dipercaya orang-orang Islam sebagai sosok penyelamat yang akan muncul kelak di akhir zaman.

Sosok yang telah ketitisan wahyu atau wangsit Herucakra akan  mengalami transformasi mental dan perubahan kesadaran yang luar biasa yang sekilas tampak tiba-tiba, sehingga dia sering dianggap gila (tapi bukan orang-orang gila secara medis yang menghuni rumah-rumah sakit jiwa atau yang berkeliaran di jalan-jalan dan tidak pernah mandi, atau bukan juga orang-orang yang gila-gilaan mempertahankan sistem yang korup) untuk membela rakyatnya dari kehancuran masa depan. Tetapi sesungguhnya proses penitisan wahyu Herucakra ini bersumber dari ujian kehidupan serta kenyataan yang dihadapi rakyat.

Pangeran Diponegoro, sang pemimpin Perang Jawa, memahami jagat pemikiran dan kosmologi bangsa Jawa ketika dia melakukan konsolidasi untuk membersihkan dan mencoba mengalahkan kolonialisme dan kapitalisme, yang merupakan perpaduan antara kekuatan kolonialisme Barat, kapitalisme Cina dan penguasa feodal bumiputra di Tanah Jawa pada masanya. Apa yang dilakukan Pangeran Diponegoro adalah pengulangan sejarah yang dilakukan oleh Herucakra-Herucakra sebelumnya, pada saat rakyat di Kepulauan Nusantara merasakan ketidakadilan dan ancaman terhadap masa depan mereka.

Pangeran Diponegoro menggunakan konsep Herucakra dari tradisi yang sudah mapan dan mengakar selama ribuan tahun yang telah diadopsi serta dianggap bagian dari kekayaan peradaban dan spiritualitas rakyat di Pulau Jawa.

Pangeran Diponegoro sebagai pemimpin perjuangan rakyat Pulau Jawa dalam ke-Islam-annya  kemudian sengaja menerapkan konsep Herucakra. Penerapan konsep ini, melalui pergolakan dan pengorbanan, akan melahirkan suatu keadaan adil dan makmur bagi mayoritas rakyat dengan sosok pemimpin mereka yang kelak disebut Ratu Adil.

Kemunculan Ratu Adil ini katanya akan diawali dengan pergolakan, konflik, konfrontasi, polarisasi, benturan, kekacauan, huru hara, kekalahan, kerusakan, bencana alam, permusuhan, dan perang urat saraf. 

Dalam pengertian inilah kalimat “Indonesia akan punah” yang pernah dilontarkan salah seorang calon presiden Indonesia dan dikritisi oleh sebagian dari kita di sini justru dapat dipahami konteksnya setelah mempelajari dan mengambil hikmah dari “perang suci” yang dikenal dunia sebagai Perang Jawa.

Mengapa dia melontarkan kalimat tersebut? Alasan pastinya saya tentu saja tidak tahu. Saya tidak pernah berteman, tidak pernah bertemu dan tidak pernah berbicara dengannya. Tetapi fakta menunjukkan bahwa dia tidak terpisahkan dari Perang Jawa, baik secara historis maupun secara genetik. Kakeknya adalah salah seorang panglima perang Diponegoro.

Leluhurnya adalah pihak yang dikalahkan oleh kolonialisme, kapitalisme dan imperialisme dalam perang besar itu, yang mengakibatkan gugurnya sekitar 300-an ribu pejuang rakyat dari berbagai kalangan dan bangsa, baik bangsa-bangsa bumiputera maupun bangsa-bangsa asing, yang terdiri dari orang Jawa, Sunda, Melayu, Banten, Bima, Bugis, Makassar, Minangkabau, Kalang, Afrika, Arab, Cina, Persia, Turki, India, Italia, dan Portugis yang berperang di pihak Pangeran Diponegoro.

Efek dari kekalahan Pangeran Diponegoro dan rakyat Jawa dalam Perang Jawa ini adalah kemusnahan jagat kosmologi bangsa Jawa dan makin terpuruknya rakyat Jawa dalam penjajahan yang mengerikan dan traumatis.

Penulis: Linda Christanty
Website: lindachristanty.com

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...