Cinta Palsu

Dengan cinta, sesuatu yang bukan sesuatu menjadi sesuatu. Dengan benci, sesuatu yang sesungguhnya sesuatu menjadi bukan sesuatu. Cinta itu mensyaratkan perhatian dan penghormatan. Tiadanya dua hal itu menjadikan cinta sebagai cinta palsu.

Tak salah orang bijak berkata bahwa cinta palsu adalah cinta yang bagai bayangan. Bayangan itu mengikuti kita selama sinar mentari begitu terang. Ketika sinar mentari redup dan kemudian menjadi gelap setelah memasuki masa tenggelam maka bayangan itu menjadi sirna, hilang dan tak lagi bersama.

Ada orang yang mencintai hanya ketika yang dicinta bersinar, lalu meninggalkannya ketika yang dicinta mulai redup dan kalah terang dibandingkan yang lain. Cinta seperti ini adalah cinta bersyarat, bukan cinta sebagaimana dibahas para pemilik hati yang sehat. Persis seperti bayang-bayang bukan?

Yang lebih parah adalah ketika bayang-bayang itu mendominasi obyek aslinya, sementara bayang-bayang itu tak bisa pergi menjauh dari aslinya. Sementara yang paling parah adalah obyek asli yang tunduk pada bayangan. Saat itulah identitas dirinya sebagai yang asli hilang. Itulah yang disebut para filosof sebagai kematian realitas.

Cinta kita kepada Allah dan Rasulullah haruslah cinta hakiki, cinta yang mensyaratkan perhatian pada apa yang diperintahkanNya dan menghormati apa yang diperintahkanNya untuk dihormati.

Dr. K.H. Ahmad Imam Mawardi, MA.

Sahabat, sungguh indah sekali apa yang disampaikan narasi di atas. Cobalah kita baca dan renungkan secara mendalam. Selama ini, mungkin hidup kita masih terisi dengan cinta-cinta yang palsu, cinta yang mengutamakan keindahan fisik, keindahan dhahir semata, cinta yang semu.

Mencintai sesama makhluk adalah fitrah setiap manusia, karena kita memang bukan malaikat. Akan tetapi, selama cinta yang kita bangun tidak bertujuan untuk menggapai ridha Sang Pemilik cinta sejati, akan mudah sirna.

Cinta karena ketampanan dan kecantikan fisik lambat laun akan memudar, sebab setiap raga akan menua. Janganlah kita dibutakan oleh cinta kepada sesama makhluk, apalagi sampai kita kehilangan jati diri kita dan tunduk pada sesama.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...