Cara Menasehati Pemimpin ala Imam Al Ghazali

Menurut al-Ghazali, seorang pemimpin tak ubahnya seperti penjaga (harish/the guardian) kemaslahatan umat, di sisi lain sebagai representasi agama dan mengatur (al-tanzhim) administrasi urusan perkara duniawi. Tafsiran al-Ghazali tersebut didasarkan atas konsep umum al-Mawardi bahwa "al-khilafah hirasthuddin wa siyasatud dunya."

Dalam kitabnya yang bertajuk "al-Tibru al-Masbuq fi Nashihat al-Muluk" (emas yang didahulukan dalam menasihati para raja), Al-Ghazali menceritakan, bahwa ada seseorang yang alim zuhud, pernah diundang untuk datang kepada seorang khalifah (raja). Sang raja berkata, “berilah aku nasihat”. Lantas sang alim zahid bercerita bahwa di sebuah negeri nun jauh dikenal dengan negeri Cina, hidup seorang raja yang adil berkuasa dan memerintah rakyatnya dengan penuh penghormatan dan cinta.

Suatu ketika ia menderita penyakit telinga (tuli), lalu ia menangis. Sang penasihat bertanya, apa yang membuatmu menangis. Lantas sang raja berkata, aku menangis bukan karena sakitku. Akan tetapi, aku menangis karena aku tidak mampu lagi mendengarkan keluhan rakyatku yang meminta pertolongan di hadapan singgasanaku. Mendengar hal tersebut, sang penasihat memerintahkan rakyatnya memakai baju merah (ahmar), agar sang raja mengenali bahwa orang tersebut dalam keadaan sulit.

Dari kisah-kisah yang dituliskan, nasehat untuk para pemimpin haruslah dilakukan dengan cara-cara yang baik dan tidak melakukan cara-cara destruktif (mafsadat) yang besar. Dari kitab ini tampak bahwa al-Ghazali sangat menekankan keseimbangan antara ulama (intelektual) dan umara dalam melakukan perbaikan untuk mencapai kemaslahatan bagi rakyat. Wallahu A’lam.

Penulis: Ahmad Syafi'i S.J, dosen IAIN dan INSURI Ponorogo
Link FB: facebook.com/ahmad.syafii.58760

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...