Budaya "Ngrasani"

"Salah satu penyakit sosial yang sulit dihilangkan ialah gosip. Padahal kegemaran menyebar keburukan orang lain atau membuat gosip akan membawa kita ke daerah sunyi yang sepi, kering dan tanpa teman sejati. Karena itu, marilah kita hindari gosip agar tidak mengurangi nilai amal sholeh yang telah kita kumpulkan dengan susah payah. Mulai sekarang mari kita berhenti menyebar gosip dan mencari-cari kesalahan orang lain karena itu sejatinya tanda yang nyata bahwa kita sedang dalam keadaan tidak nyaman dengan diri kita sendiri. Tetapi kita tidak sadar." - Prof. Mudjia Rahardjo

Kutipan di atas menegaskan betapa gosip, desas-desus, atau "rasan-rasan" memiliki banyak sekali efek destruktif terhadap diri kita maupun orang lain.

Media sosial menjadi sarana baru untuk bergosip, menyebarluaskan aib orang lain ke publik. Padahal kita sendiri juga punya banyak aib. Kebiasaan menyebarkan aib orang lain akan menjadi blunder bagi pelakunya. Orang akan menilainya sebagai pribadi yang berhati buruk. Sama sama hal itu menunjukkan kebodohan dan keburukannya sendiri kepada publik.

Dalam hubungan sosial, suka nggosip, prasangka buruk, dan menyebarkan aib orang lain dapat memutuskan tali silaturahmi antar teman, sahabat, dan bahkan kerabat. Sama halnya menjerumuskan diri sendiri ke dalam jurang alienasi. Padahal kita tidak bisa hidup sendirian, tidak bisa memenuhi segala kebutuhan hidup seorang diri.

"Ngrasani" atau menggunjing atau bergosip dapat mengurangi, bahkan menghapuskam amal-amal kebaikan yang telah kita lakukan. Laksana api yang membakar kayu sampai jadi abu.

Semoga kita dijauhkan dari keinginan dan perbuatan mengoreksi dan menyebarkan aib orang lain. Fokus pada perbaikan kualitas diri, keluarga, dan orang-orang di sekitar kita. Amin

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...