Bisnis Politik Kekuasaan

"Suatu waktu di barbershop, bersamaan dengan anak-anak muda, sambil menunggu giliran untuk dipangkas rambut sesuai seleranya. Muncullah obrolan tentang politik, katanya mereka telah menguasai suara pemilih di beberapa wilayah," tulis prof. Musa Asy'ari mengisahkan pengalaman beliau di akun facebook resmi miliknya.

"Mereka rupanya pebisnis politik kekuasaan dengan memperdagangkan suara dukungan yang sudah dikuasainya. Ada yang menguasai daerah merah, putih, biru, kuning dan hijau," lanjut beliau menegaskan.

Semakin pandai seseorang dalam mempersuasi dan memobilisasi massa, otomatis semakin banyak pula suara dukungan yang didapat. Dan jangan tanya, honor yang didapatpun semakin besar. Sayang, kaum akar rumput yang punya kapasitas mobilisasi massa dan paham dengan dunia perpolitikan banyak yang pola pikirnya cenderung pragmatis.

"Ada yang membuat terkesima, rupanya selama ini bisnis dukungan suara itu merupakan bisnis yang sangat menguntungkan dan berkelanjutan. Jika ada calon yang bisa memenangkan pemilu/pilkada lewat mereka, maka mereka pun mendapatkan bagian proyek APBN/APBD. Jika seandainya omongan mereka benar, bukan hoax, maka demokrasi telah dibajak oleh pebisnis kekuasaan, dari hulu sampai hilir. Pantesan diperlukan beaya yang besar untuk bisnis suara. Pantesan sekarang korupsi sudah berjamaah."

Rakyat kecil seperti kita, yang tidak terlalu paham dengan dunia politik, hanya jadi tumbal bisnis politik kekuasaan untuk memperebutkan dana APBD/APBN oleh segelintir oknum nakal. Di sisi lain, terlepas dari baik atau tidak , halal atau haram, mereka termasuk orang yang cerdas menangkap peluang. Sama seperti mental pedagang yang selalu cari peluang, hanya saja sayangnya cara yang menyimpang pun digunakan.

Menemukan orang-orang yang memiliki integritas memang semakin sulit dengan membudayanya bisnis politik kekuasaan yang terlanjur mengakar dari hulu sampai hilir. Mayoritas kaum akar rumput hanya jadi korban bisnis politik semacam ini, sementara sebagian yang lain memilih untuk apatis.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...