Merajut Kebhinekaan Indonesia Lewat Batik

Batik merupakan maha karya seni yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Tentu ada hubungan tak terpisahkan antara keduanya. Ya, batik adalah simbol kebhinekaan. Berbagai macam motif menyatu dalam sebuah karya, batik. Seperti yang diungkapkan oleh seniman jalanan Darbotz dan ilustrator Ykha Amelz, sebagaimana dilansir kompas.com, yang membuat desain bermotif batik limited edition untuk diterapkan pada Guinness One Indonesia Edition.

Motif batik yang mengangkat elemen-elemen kontras dipadukan untuk menggambarkan bahwa perbedaan bisa disatukan menjadi indah dan bisa menciptakan sesuatu yang baru dan lebih bermakna.

Assistant Chief Representative Officer for Diageo in Indonesia, Adrienne Gammie, mengungkapkan bahwa di tengah masyarakat kita yang semakin terkotak-kotak, batik hadir sebagai salah satu simbol semangat kebersamaan dan persatuan Indonesia. Tahun ini, perayaan hari batik dimaknai sebagai 'seragam' persatuan Indonesia dan mempertemukan dua desainer Indonesia untuk mendesain kemasan Guinness edisi terbatas.

Motif yang diterapkan dalam kaleng dan botol Guinness, terinspirasi oleh prinsip-prinsip 'Pancha Mahabhuta' yang menggabungkan unsur-unsur yang bertolak belakang seperti Api (Teja) dengan Air (Apah), dan Bumi (Perthiwi) dengan Udara (Bayu), untuk menciptakan pola yang harmonis dan menyatu.

Desainnya merupakan perwujudan dari semangat masyarakat Indonesia pada umumnya (Sukhsma Sarira) yang tercermin dalam gotong royong, musyawarah untuk mufakat, dan pedoman nasional BhinnekaTunggal Ika.

Seperti yang dijelaskan Adrienne, dsain yang diciptakan menampilkan keharmonisan elemen-elemen batik yang bertentangan, sama seperti karakter dua desainer yang berbeda, namun mencerminkan persatuan semangat kebersamaan.

Darbotz, yang biasanya melukisi tembok, dalam desainnya menggambarkan motif kemitir api yang menyala-nyala dan bersatu dengan motif parang yang melambangkan air. Di antaranya, ia menyisipkan desain ikan dengan gayanya yang khas, kain poleng, serta cumi yang merupakan ciri karyanya.

Darbotz mengaku, baru pertama kalinya ia bekerja menggunakan motif batik dan bersandar pada ideologi batik sebagai inspirasi. Ia sangat menikmati prosesnya karena dapat mewujudkan visinya dan melakukan interpretasi modern terhadap elemen-elemen dasar kehidupan.

Begitu pula dengan Ykha Amelz, yang dalam desainnya memasukkan motif mega mendung dan paksi (burung) sebagai lambang udara, serta motif padi-padian sebagai lambang Bumi. Sebagai pemersatu ia juga memasukkan motif poleng.

Melalui proses ini, ia belajar tentang bagaimana menerapkan ideologi Batik serta makna dari elemen-elemen yang ia wakili. Ini adalah sesuatu yang selalu ingin ia bawa dalam karyanya, yaitu menampilkan warisan dan nilai khas Indonesia di dalamnya.

Karya kedua seniman ini akan hadir dalam produk Guinness Foreign Extra Stout pint, kuart dan kaleng ataupun Guinness Zero Original mulai Oktober hingga Desember 2017. Motif batik dalam edisi terbatas ini menunjukkan semangat persatuan Indonesia yang murni, yang sebenarnya ada di dalam diri kita semua; sebuah bukti bahwa Indonesia adalah satu.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel

loading...