Pacaran dan Taarufan

Ketika mendengar istilah pacaran, yang tergambar dalam benak banyak orang yakni hubungan asmara laki-laki dan perempuan yang cenderung pada perbuatan-perbuatan negatif dan melanggar norma, baik agama maupun susila. Cukup beralasan memang, karena kenyataan yang terjadi saat ini memang seperti itu. Pengaruh lingkungan dan media (terutama televisi) yang terus menerus memberikan model gaya berpacaran, berdampak bagi kalangan masyarakat khusunya ABG labil untuk menirunya. Inilah mengapa istilah pacaran selalu cenderung bermakna negatif.

Pada umumnya, motif dari seseorang menjalin sebuah hubungan dengan lawan jenis dengan berpacaran ada dua, yang pertama untuk sekedar bersenang-senang, kedua sebagai bentuk pengenalan lebih dalam terhadap karakter masing-masing sebelum memasuki jenjang pernikahan. Dua hal ini berkaitan erat dengan faktor usia dan tingkat kedewasaan seseorang.

Motif yang pertama biasanya dilakukan oleh anak-anak yang menginjak usia remaja di mana pada masa-masa itu gejolak asmara terhadap lawan jenis begitu menggebu-gebu. Secara biologis mereka sudah cukup matang, namun belum secara psikologis. Akibatnya banyak terjadi kasus hamil di luar nikah dan fenomena seks bebas.

Remaja dengan kondisi psikologis yang belum matang tidak berpikir jangka panjang atas setiap tindakan yang mereka lakukan. Yang mereka cari hanyalah kepuasan hawa nafsu.

Sedangkan motif yang kedua dilakukan oleh mereka yang sudah cukup umur untuk menikah dan baik secara fisik maupun psikologis mereka telah cukup matang. Orientasi berpacarannya tidak hanya sekedar bersenang-senang, namun sebagai bentuk ikhtiar memantabkan hati dalam memilih dan memilah mana yang paling cocok untuk dijadikan pendamping hidup.

Sementara taaruf merupakan istilah yang punya kesan lebih islami dan positif ketimbang pacaran. Benarkah demikian? Dalam hal ini, saya cenderung untuk sepakat dengan pendapat mas Ulil Abshar Abdalla yang menyatakan bahwa pada dasarnya taaruf itu merupakan istilah Arab untuk pacaran. Dengan kata lain, pacaran merupakan istilah lokal yang sama maknanya dengan ta’aruf yang berasal dari bahasa Arab. Pacaran adalah versi Indonesianya taaruf.

Istilah taaruf biasanya dipakai oleh mereka yang konservatif, yang kurang apresiatif dan cenderung menolak kearifan lokal, terutama dalam hal bahasa dan budaya. Antara istilah pacaran dan ta’arufan, yang meskipun secara substansial memiliki kesamaan makna, konotasi pacaran selalu jelek, buruk, dan tercela. Bukan hanya karena memang faktanya banyak orang yang gaya pacarannya menyimpang dari norma agama dan masyarakat, tapi juga karena banyaknya buku dan tulisan yang selalu mengidentikkan pacaran sebagai hal yang selalu negatif dan taaruf sebagai yang positif.

Jadi, boleh nggak kita pacaran? Boleh, asalkan tau aturan dan batasan. Tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai dan norma, baik agama maupun susila. Mau pacaran atau taarufan terserah, karena keduanya hanya beda secara istilah. Semua tergantung pada praktek/gaya pacaran/taarufannya.

Sebaiknya kita menilai segala sesuatu secara substansial, bukan dari bungkusnya saja. Pacaran dan taaruf hanya istilah yang diibaratkan kemasan, sedangkan substansinya ada pada niat dan cara mengekspresikannya. Apabila ada seseorang yang mengatakan ia sedang ta’arufan dengan lawan jenis, namun pada praktiknya ia melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan etika, apakah kita akan mengatakan bahwa ta’aruf selalu lebih baik dari pacaran?

Seseorang yang berpacaran, karena memang niat awalnya untuk saling mengenal karakter satu sama lain dengan batas-batas tertentu sebagai upaya memantabkan hati sebelum memilih apakah si dia benar-benar memiliki kriteria yang layak untuk dijadikan pendamping hidup atau tidak, apakah pacaran yang seperti itu buruk? Tentu tidak, bukan? Pacaran yang sejak awal diniatkan untuk saling mengenal satu sama lain demi terciptanya kebahagiaan dan keharmonisan dalam rumah tangga kelak, merupakan sesuatu yang sangat urgen, bahkan harus dilakukan. Asalkan, tidak keluar dari prinsip dan norma agama (islam) serta masyarakat.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel