Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cinta Dunia Pangkal Segala Keburukan

Hal yang menyebabkan seseorang memiliki sifat kikir ialah karena orang itu menganggap harta benda duniawi adalah segalanya. Dia beranggapan bahwa harta itulah yang akan menjamin masa depannya, sehingga dia menghabiskan waktunya untuk terus menumpuk-numpuk harta sebanyak-banyaknya. Orang seperti itu merupakan ciri orang yang 'gila harta'.

Orang yang tergila-gila dengan kepentingan duniawi, biasanya cenderung tidak peduli dengan kepentingan ukhrawi. Karena itulah, Hatim al-Asham menyatakan bahwa jika ada orang kikir mengaku ingin masuk surga, maka dia adalah pendusta, sebab surga itu adalah urusan akhirat, sedangkan kikir disebabkan oleh kecintaan yang berlebihan terhadap urusan duniawi.

Dalam sebuah hadis Nabi juga disebutkan bahwa kecintaan kepada duniawi merupakan sumber dari segala keburukan. Dan kekikiran merupakan salah satu ekses dari kecintaan seseorang terhadap duniawi.

Cerita tentang kebinasaan Qorun yang sudah tidak asing lagi di telinga kita sebenarnya cukup menjadi pelajaran bahwa terlalu mencintai harta benda duniawi serta kekikiran pada akhirnya akan menjadi bumerang yang mencelakakan kita sendiri. Tidak hanya saat hidup di dunia, namun juga di kahirat.

Rasa cinta kita yang berlebihan terhadap dunia, membuat kita seakan-akan memilikinya. Karena kita merasa memiliki uang, perhiasan, dan benda-benda berharga lainnya, maka terasa berat bagi kita untuk kehilangannya. Padahal sejatinya semua itu hanyalah titipan, dan kita hanyalah makhluk yang menjadi perantara bagi tersebarnya rahmat Allah ke seluruh alam.

Termasuk cinta dunia adalah terlalu berambisi dengan jabatan. Rela menghalalkan segala cara dan upaya demi meraihnya. Memfitnah, mencaci, menyuap, menebarkan hoax dan kebencian, merupakan fenomena yang biasa kita saksikan dari orang-orang yang syahwat duniawinya terhadap kekuasaan begitu besar.

Percayalah, usia kita tidak akan cukup untuk memuaskan nafsu kita terhadap duniawi. Tentu sebuah kerugian yang berlipat ganda apabila kita terus memikirkan dan mengejar materi, jabatan, atau kesenangan-kesenangan duniawi yang hasilnya tidak pernah mampu memuaskan ambisi kita.